Sejarah Istana Siak Sri Indrapura

Sejarah Istana Siak Sri Indrapura

Sejarah Istana Siak Sri Indrapura

Sejarah Istana Siak Sri Indrapura
Sejarah Istana Siak Sri Indrapura

Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889-1908, dibangunlah istana yang megah terletak di kota Siak dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang dibangun pada tahun 1889. Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini Siak mengalami kemajuan terutama dibidang ekonomi. Dan masa itu pula beliau berkesempatan melawat ke Eropa yaitu Jerman dan Belanda. Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915 beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II).

Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia

beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden. Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta.

Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968

Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu. Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin.

Diawal Pemerintahan Republik Indonesia, Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999.

Sementara itu Istana Siak ini pernah direnovasi karena ada perkiraan terjadi penurunan pondasinya. Pelaksana proyek perbaikan ini dilakukan oleh Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kabupaten Siak, bekerja sama dengan tenaga-tenaga ahli konstruksi dari ITB Bandung. Prosesnya sudah mulai berjalan sejak awal 2004-hingga tahun 2005.

Pengkajian dan renovasi Istana Siak diarahkan untuk tetap mempertahankan kondisi asli dari Istana Siak

Ini dilakukan untuk melihat retak-retak di beberapa bagian dinding lantai dua, kondisi istana akan tetap dipertahankan bentuk aslinya, sehingga pengunjung yang datang tetap bisa menikmati istana siak dengan kondisi seperti yang asli.

Istana Siak ini mendapat penjagaan yang cukup intensive dari petugas. Dibeberapa sudut ruangan sudah terpasang kamera sisi teve untuk mengawasi pengunjung yang datang. Sebanyak 30 petugas bergantian selama 24 jam untuk mengamannkan istana.

Nah Sobat, sudah selayaknya warisan budaya ini dicintai oleh negeri. Istana Mutiara Timur ini merupakan aset negara yang tidak ternilai yang harus tetap mendapat perhatian baik pemerintah maupun masyarakatnya.

Baca juga artikel: