Riwayat kepemimpinan Mangkunegara VIII di Pura Mangkunagara

MANGKUNEGARA VIII

Riwayat kepemimpinan Mangkunegara VIII di Pura Mangkunagara dengan demikian dimulai sejak pemerintahan Jepang bercokol di Indonesia, tepatnya setelah wafatnya Mangkunegara VII pada tanggal 19 Juli 2604 (1944), dikarenakan sakit. Disaat pendudukan Jepang kehidupan Kraton Mangkunegara dalam kondisi pahit dan getir, dan dalam kondisi itu Mangkunegara VIII tetap memegang otonomi dan selalu mencari jalan untuk meringankan beban rakyat dengan melindungi dari kekejaman tentara Jepang. Dalam masa pemerintahan Jepang Mangkunegara VIII menerima tambahan kekuasaan untuk mengurusi bidang pendidikan; SR, SMP,SMA, juga mengurusi pegadaian. Urusan bidang keamanan khususnya kepolisian dan ketentaraan tetap ditangani oleh pemerintahan Jepang. Kemudian setelah Indonesia merdeka, atas dasar Surat Ketetapan dari Presiden Republik Indonesia yang pertama Ir. Soekarno, tertanggal 19Agustus 1945, yang menetapkan bahwa Mangkunegaran adalah bagian dari wilayah Republik Indonesia.
Atas dasar ketetapan Presiden Republik Indonesia tersebut, Mangkunegara ditugasi untuk menjaga keselamatan dan membina kerabat beserta rakyat Mangkunegaran. Berkaitan dengan itu pula Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu tidak lagi dikuasai oleh KGPAA Mangkunagoro VIII , karena telah dimiliki oleh Negara Republik Indonesia. Dari peristiwa tersebut tampak bahwa kekuasaan kraton sebagai pusat pemerintahan yang dipimpin oleh seorang raja telah tergeser. Sehubungan dengan hal tersebut, raja/kraton mulai memberdayakan dan mencurahkan perhatian pada kegiatan-kegiatan budaya. Kegiatan-kegiatan budaya tersebut ditekankan pada kegiatan ritual-ritual yang terdapat di dalam istana. Penekanan kegiatan-kegiatan tersebut juga sebagai upaya mengembangan pusat budaya, karena kraton merupakan pusat budaya. Kegiatan yang menunjang pengembangan budaya diantaranya dengan merenovasi secara besar-besaran dengan cara modern.

Segala hal yang dilakukan Mangkunegara VIII dalam perjalanan kepemimpinannya di Pura Mangkunegaran tidak lepas dari Misi Agung yang diembannya yaitu adalah:
a. Melestarikan peninggalan budaya luhur Mangkunegaran untuk disumbangkan kepada pembangunan nasional.

b. Menggalang persatuan antar – kerabat.

c. Meningkatkan potensi kerabat Mangkunegaran untuk lebih berpartisipasi dalam mensukseskan pembangunan Nasional.
Ia juga seorang pendiri Himpunan Kerabat Ageng Mangkunegaran Suryosumirat, tidak hanya itu ia juga mendirikan Mangkunegaran Palace Hotel di gedung militer Legiun Mangkunegaran. Mangkunegaran juga mempunyai seperti perusahaan pembuat gamelan juga menjual hasil buatan gamelannya. Menerjemahkan buku-buku di Rekso Pustoko dari bahasa jawa ke bahasa latin. Pengadaan Kantor Biro Pariwisata, membuat taman anggrek di Ujung Puri juga peranan Mangkunegoro ke VIII. Mendirikan Koperasi Keluarga Mangkunegaran tanggal 22 Januari 1980. Membentuk tim Kepala Dinas Urusan Istana Mangkunegaran dengan tugas :
1. Kirab pusaka dan jamasan pusaka dalem.
2. Wilujengan ruwahan salajengipun sadranan di kuburan leluhur Mangkunegaran.
3. Halal bihalal
Peranan Mangkunegoro VIII sangatlah besar baik dalam maupun luar untuk Istana maupun Negara. Mangkunegoro untuk menghadapi gerakan anti-swapraja melakukan beberapa kebijakan kebijakan yang dinilai dapat mengatasi. Gerakan anti swapraja yang berlarut larut menjadi semakin seru dengan tambahan kekuatan yang berasal dari pihak oposisi yang membuat wadah yang tergabung dalam persatuan perjuangan ke Surakarta, setelah ibukota Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta akibat pertentangan kembali dengan Belanda, kehadiran pihak oposisi ke Surakarta mengakibatkan situasi politik di Surakarta semakin keruh dan kacau. Persatuan perjuangan dari pihak oposisi dan anti swapraja akhirnya semakin membangkitkan gerakan anti swapraja di Surakarta.

SUmber: https://cipaganti.co.id/