Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter

Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter

Pengembangan karakter merupakan proses seumur hidup . pengembangan karakter anak merupakan upaya yang perlu melibatkan semua pihak, baik keluarga inti, keluarga (kakek-nenek), sekolah, masyarakat, maupun pemerintah. Oleh karena itu keempat koridor ini harus berjalan secara terintegrasi. Pemerintah, lembaga social, tokoh masyarakat/tokoh agama, pemuka adat, dan lainnya memiliki tanggung jawab yang sama besarnya dalam melaksanakan pendidikan karakter. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter juga. Dengan begitu, fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Untuk itu tiga pihak yang mempunyai peran penting agar pembangunan karakter pada anak dapat ditumbuh kembangkan, yaitu keluarga, sekolah dan komunitas.

Pada keluarga inti, peranan utama pendidikan terletak pada ayah dan ibu. Philips menyarankan bahwa keluarga hendaknya menjadi sekolah untuk kasih sayang , atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang. Menurut Gunaldi, ada tiga peran utama yang dapat dilakukan ayah dan ibu dalam mengembangkan karakter anak. Pertama berkewajiban menciptakan suasana yang hangat dan tenteram. Tanpa ketentraman akan sukar bagi anak untuk belajar apapun dan anak akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan jiwanya. Ketegangan atau ketakutan adalah wadah yang buruk bagi perkembangan karakter anak. Kedua, menjadi panutan yang positif bagi anak sebab anak belajar terbanyak dari apa yang dilihatnya, bukan dari apa yang didengarnya. Karakter orang tua yang diperlihatkan melalui perilaku nyata merupakan bahan pelajaran yang akan diserap anak. Ketiga, mendidik anak, artinya mengajarkan karakter yang baik dan mendisiplinkan anak agar berperilaku sesuai dengan apa yang telah diajarkannya..[5]

Secara perinci, setidaknya terdapat 10 cara yang dapat dilakukan ayah-ibu untuk melakukan pengasuhan yang tepat dalam rangka mengembangkan karakter yang baik pada anak, antara lain:

  1. Menempatkan tugas dan kewajiban ayah-ibu sebagai agenda utama.
  2. Mengevaluasi cara ayah-ibu dalam menghabiskan waktu selama sehari/seminggu
  3. Menyiapkan diri menjadi contoh yang baik
  4.  Membuka mata dan telinga terhadap apa saja yang sedang mereka serap/alami
  5. Menggunakan bahasa karakter
  6. Memberikan hukuman dengan kasih sayang
  7. Belajar untuk mendengarkan anak
  8. Terlibat dalam kehidupan sekolah anak
  9. Tidak mendidik karakter melalui kata-kata saja
  10. Tidak mendidik karakter melalui kata-kata saja

Keluarga adalah sekolah tempat putra putri belajar. Dari sana mereka mempelajari sifat-sifat mulia, seperti kesetiaan, rahmat, dan kasih sayang. Dari kehidupan keluarga seorang ayah dan suami memperoleh dan memupuk sifat keberanian dan keuletan sikap dan upaya dalam membela sana keluarganya dan membahagiakan mereka pada saat hidupnya dan setelah kematiannya. Keluarga adalah unit terkecil yang bisa menjadi pendukung dan pembangkit lahirnya bangsa dan masyarakat. Tidaklah memeleset jika dikatakan al-usrah’imad al-bilad biha tahya wa biha tamut (keluarga adalah tiang Negara, dengan keluargalah Negara bangkit dan runtuh).

sumber :