Pengertian Nusyuz

Pengertian Nusyuz

Secara bahasa kata nusyuz berasal dari kata dasar nasyz yang berarti tempat yang tinggi. Sedangkan menurut istilah, nusyuz adalah pelanggaran yang dilakukan oleh seorang istri terhadap kewajibannya yang ditetapkan oleh Allah SWT. agar taat kepada suami. Sehingga seolah-olah istri menempatkan dirinya lebih tinggi dari pada suami.[1]

Menurut Ibnu Katsir, nusyuz artinya menantang. Istri yang nusyuz adalah istri yang menantang suaminya, tidak melaksanakan perintahnya, berpaling dari suami dan membuatnya marah.[2]

Menurut Hussein bahreisj, nusyuz adalah suatu sikap membangkang atau durhaka dari isteri kepada suaminya atau terjadi penyelewengan yang tidak dibenarkan oleh suami terhadap isterinya.

Menurut Slamet Abidin dan Amunudin, nusyuz adalah durhaka, artinya kedurhakaan yang dilakukan istri terhadap suaminya. Kedurhakaan disini adalah ketika seorang istri menentang  permintaan suami tanpa alasan yang dapat diterima hukum syara’. Misalnya :

  1. Suami telah menyediakan rumah yang sesuai dengan keadaan suami, tetapi istri tidak mau pindah ke rumah tersebut, atau istri meninggalkan rumah tanpa ijin dari suami.
  2. Apabila istri bepergian tanpa disertai suami atau mahramnya, walaupun perjalan itu wajib, seperti pergi haji, maka perbuatan tersebut terhitung haram.[3]
  3. Penolakan istri ketika suami mengajak berjima’ tanpa adanya alasan yang syar’i.
  4. Memasukkan orang yang tidak disukai suaminya kedalam rumah.
  1.  Hukum An-Nusyuz

Nusyuz hukumnya haram. Allah telah menetapkan hukuman bagi wanita yang melakukan nusyuz jika ia tidak mempan dinasehati. Hukuman tidak akan diberikan kecuali karena adanya pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan, atau karena meninggalkan perbuatan yang wajib dilakukan.[4] Allah berfirman dalam QS. An-Nisa’: 34

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Qurthubi berkata, “ketahuilah bahwa Allah tidak memerintahkan untuk memukul seseorang jika ia melanggar kewajibannya, kecuali dalam kasus nusyuz ini dan kasus hudud yang tergolong besar. Allah menyamakan pembangkangan para istri dengan maksiat dosa besar lainnya. Dalam pelaksanaan hukumannyapun, suami sendiri yang melaksanakannya, bukan penguasa. Bahkan Allah menetapkan hal itu tanpa proses pengadilan, tanpa saksi atau bukti, sebab dalam hal ini Allah betul-betul percaya kepada para suami dalam menangani istri-istrinya.

Para ulama berbeda pendapat soal hukuman dalam ayat di atas, apakah diberikan berdasarkan urutan atau tidak. Latar belakangnya karena mereka berbeda pendapat dalam memahami huruf waw ‘athof. Yakni apakah huruf itu menunjukkan penggabungan secara mutlak sehingga suami cukup memberikan satu saja dari hukuman-hukuman itu kepada istrinya dan/atau menerapkan keduanya, atau apakah huruf itu menunjukkan adanya urutan.

https://goodluckdimsum.com/soccer-revolution-apk/