Pembahasan Mengenai Fiqih Kontemporer

Pembahasan Mengenai Fiqih Kontemporer

Pembahasan Mengenai Fiqih Kontemporer

Pembahasan Mengenai Fiqih Kontemporer
Pembahasan Mengenai Fiqih Kontemporer

a. Haji

Haji (asal ma’nanya) ialah Qashad “menyengaja sesuatu”.Haji di sini (menurut syara’) adalah Qasshada al-ka’bata linnusuki al a’ti yaitu mengqashadkan ka’bah memperbuat ibadah yang lagi akan datang keterangannya.[1] Dengan perkataan lain haji ialah “sengaja mengunjungi ka’bah (Rumah suci) untuk melakukan beberapa amal ibadah,dengan syarat-syarat yang tertentu”.

b. Permulaan wajib haji

Pendapat Ulama’ dalam hal menentukan permulaan wajib haji ini tidak sama: sebagian mereka mengatakan haji di wajibkan sebelum hijrah,dan sebagian lagi mengatakan di fardukan pada tahun petama hijrah,dan yang lain lagi mengatakan pada tahun ke dua hijrah.Demikianlah terjadi perbedaan pendapat mengenai tahun di wajibkan haji sampai ada yang mengatakan pada tahun ke sepuluh hijrah.Namun pendapat yang benar ialah wajib haji itu pada tahun ke enam hijrah,tetapI Rosul baru melaksanakannya pada tahun ke sepuluh.Dalil yang menetapkan bahwa haji termasuk rukun islam sebelumadanya ijma’ adalah dari beberapa ayat Al-qur’an dan beberapa buah Hadist yang di antaranya firman Allah yang artinya”Dan karena Allah di wajibkan atas manusia melakukan haji ke Bait bagi yang mampu melakukannya ke sana”.(QS:Ali imran 97).

Pada ayat yang lain Allah juga berfirman”Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah”. (QS:Al-Baqarah.196)
Adapun hadist nabi yang menjelaskan tentang wajibnya haji ialah yang artinya”Islam itu di bangun atas lima dasar:Syahadad ,tiada tuhan melainkan Allah,dan Muhammad Rosulullah ,mendirikan shalat,membayar zakat,naik haji ke baitullah dan puasa bulan Ramadan.(HR:Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Umar bin Khatab)

c. Syarat wajib haji

Syarat wajib haji ada empat macam:pertama yang mengerjakannya beragama islam oleh karena itu tidaklah wajib bagi orang yang tidak islam.Tetapi wajib bagi orang yang murtad kalau ia di anggap mampu ketika murtadnya sesudah ia kembali menganut islam,sekalipun sesudah berislam ia kembali tidak mampu.Kedua ialah ia mukallaf yaitu berakal dan baligh,karena itu tidaklah wajib haji bagi orang gila dan anak-anak.Ketiga hendaknya ia merdeka maka tidaklah wajib haji bagi budak.Ke-empat istatha’ah yakni kuasa mengerjakan haji maka tidaklah wajib bagi orang yang tidak kuasa.

Istatha’ah atau mampu ada dua macam:Istitha’ah mubasyarah artinya kuasa mengerjakan haji dengan dirinya sendiri dan Istitha’ah tashshilihi bi gairihi yaitu kemampuan melaksanakan ibadah haji dengan perantaraan orang lain.Contoh bagi seseorang yang meninggal sedang ia dalam keadaan mampu dan tercapai syarat-syarat wajib haji dan ia mempunyai harta peninggalan maka wajib di hajikan dengan harta peninggalannya dengan segera.

d. Tinjauan hukum islam tentang penggunaan obat penunda haid dalam perjalanan haji

a. Pengertian haid

Secara lughot atau bahasa Arab haid artinya sesuatu yang mengalir. Sedangkan menurut hukum syara’ atau hukum fiqih artinya adalah darah yang keluar mengalir dari rahim wanita secara alami, tanpa sebab dan pada waktu tertentu saja. Haid adalah darah alami, tidak muncul karena sebab penyakit, luka, keguguran, atau bersalin. Karena haid adalah darah alami, maka texturnya juga berbeda. Sesuai kondisi, lingkungan, temperatur udara tempat wanita tersebut hidup.
Dari segi medis, haid adalah suatu keadaan dimana rahim (uterus) permukaanya (endometrium) lepas disertai pendarahan(fertilisasi).

Dipermukaan rahim yang penuh luka-luka,terjadi pelepasan permukaan yang selanjutnya akan diikuti oleh pembaharuan permukaan rahim itu. Hal tersebut dapat terjadi antara lain karena pengaruh hormon-hormon yang dikeluarkan oleh kalenjer wanita. Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa haid adalah darah yang keluar dari rahim pada semua perempuan yang sehat alat reproduksinya. Bukan karena penyakit atau benturan kecelakaan. Haid juga bisa dijadikan indikator kesuburan. Namun siklus bulanan tersebut kerap menjadi masalah bagi perempuan karena hukum islam melarang perempuan yang sedang haid melakukan ibadah. Wanita yang sedang haid dilarang melakukan 6 kegiatan yaitu: 1. Thawaf, 2. Sholat, baik wajib maupun sunnah, 3. Berdiam diri didalam mesjid, 4. Memegang dan membaca Al-Qur’an, 5. berpuasa, 6. Bersenggama.

Kegiatan- kegiatan dalam ibadah haji seperti Sa’i, wukuf, Mabid, melontar jumrah, dan memotong rambut boleh dilakukan dalam keadaan haid.

b. Obat Penunda Haid

Obat siklus haid adalah obat obat yang bisa dipakai untuk mengatur saat datangnya haid pada wanita tergantung pada keinginan dengan cara memajukan atau menunda saat haid tersebut. Salah satu contoh obat yang biasa digunakan untuk mengatur siklus haid adalah Primolut N. Obat ini sering digunakan calon jemaah haji wanita yang hendak menunaikan ibadah hajinya di mekkah. Jenis obat ini mengandung hormon progestin dan hormon progesterone yang digunakan untuk mempercepat atau memperlambat masa datangnya haid, baik secara terpisah maupun kombinasi, karena siklus haid dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron.

Pada dasarnya ada dua faktor yang menjadi alasan bagi wanita untuk memakai obat pengatur siklus haid, yaitu: Untuk keperluan ibadah dan untuk keperluan diluar ibadah. Penggunaan pil penunda haid dibagi menjadi dua:

1. Memajukan saat haid

Dengan cara meminum pil atau tablet yang hanya berisi hormon estrogen atau kombinasi pada hari kelima pada siklus haid dari hari ke dua sampai hari ketiga sebelum datangnya haid yang diinginkan karena haid yang biasa disebut pendarahan putus obat (Withdraw Bleeding) akan terjadi dua sampai tiga hari setelah obat habis

2. Menunda saat haid

Dengan cara meminum pil yang hanya berisi progesteron atau kombinasi pada hari sebelum haid berikutnya datang sampai pada hari ke dua sebelum haid yang diinginkan. Karena biasanya haid itu akan datang setelah dua hari penghentian pil tersebut.

Baca Juga: