Menurut Muslimin et al (2012), sifat kimia tanah terdiri dari 6 bagian sifat

Menurut Muslimin et al (2012), sifat kimia tanah terdiri dari 6 bagian sifat

Menurut Muslimin et al (2012), sifat kimia tanah terdiri dari 6 bagian sifat

Menurut Muslimin et al (2012), sifat kimia tanah terdiri dari 6 bagian sifat
Menurut Muslimin et al (2012), sifat kimia tanah terdiri dari 6 bagian sifat yakni pH tanah, koloid tanah, koloid organik, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, serta unsur-unsur hara esensial.

a. pH Tanah

pH tanah atau juga sering disebut sebagai reaksi tanah merupakan takaran keasaman suatu tanah atau takaran konsentrasi H+ di dalam tanah. Lebih lanjut dikatakan bahwa pH tanah dapat menunjukkan tingkat keasaman tanah serta alkalinitas-nya. Keasaman tanah biasanya dinyatakan dengan nilai potensial hidrogen (pH) yang menunjukkan kandungan konsentrasi ion H+ yang terletak pada tanah. Ion H+ yang tinggi membuat tanah menjadi semakin asam. Selain itu, di dalam tanah juga ditemukan ion H-. Akan tetapi, nilai ion H- menunjukkan sebaliknya dari ion H+ (Hardjowigeno, 2007).
Keberadaan pH tanah menentukan kualitas unsur-unsur hara yang akan diserap oleh tanaman. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pada pH netral, tanaman lebih mudah menyerap unsur hara. Hal ini dikarenakan pada keadaan netral unsur hara lebih cepat larut di dalam air. Hardjowigeno (2003) menyatakan bahwa pH tanah yang lebih dari 5,5 membuat tanaman dapat berkembang dengan baik sebaliknya jika nilai pH lebih rendah akan menghambat aktivitas tanaman. Beberapa faktor yang mempengaruhi pH tanah diantaranya adalah asam nitrat dan asam sulfur (Foth, 1984).
b. Koloid Tanah
Koloid tanah merupakan bahan organik tanah dan mineral tanah yang bersifat halus sehingga luas permukaannya sangat lebar. Partikel yang sangat halus tersebut disebut mikro sel. Mikro sel memiliki muatan negatif sehingga ion positif dapat tertarik membentuk lapisan ionic double layer (lapisan ion berganda).  Umumnya, koloid tanah terdiri dari liat dan humus (koloid organik). Koloid tanah adalah bagian-bagian tanah yang berperan aktif dalam berbagai reaksi fisikokimia di dalam tanah. Koloid tanah umumnya meliputi mineral liat, oksida Fe dan Al, dan mineral primer (Muslimin et al., 2012).
c. Koloid Organik 

Koloid organik utama adalah humus. Susunan koloid organik terdiri dari karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Humus yang terdapat pada tanah memiliki sifat amorf, Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi dan lebih mudah dihancurkan apabila dibandingkan dengan liat. Humus mengandung muatan negatif dan dipengaruhi oleh pH. Muatan negatif humus bersumber dari gugus fenol dan gugus karboksil. Gugusan karboksil pada keadaan masam lebuh banyak mengandung H+ sehingga ikatan gugus fenol menjadi lemah. Berdasarkan atas kelarutannya dalam asam dan alkali humus disusun atas 3 bagian utama yaitu asam fulvik, asam humik, dan humin (Muslimin et al., 2012).

d. KTK (Kapasitas Tukar Kation)

Kation merupakan ion yang memiliki muatan positif. Kation diserap oleh koloid tanah atau larut di dalam air tanah. Selanjutnya KTK merupakan jumlah kation yang dapat diserap oleh tanah persatuan berat tanah. Serapan kation oleh koloid tersebut selanjutnya diganti oleh kation yang lain di dalam tanah karena kation yang diserap sulit untuk dileburkan oleh gaya gravitasi. Hal tersebut disebut pertukaran kation (Muslimin et al., 2012).

KTK merupakan salah satu sifat kimia berperan aktif dalam menjaga kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi memiliki kemampuan menyerap serta menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan nilai KTK rendah. Kesuburan tanah dengan nilai KTK tinggi disebabkan oleh beberapa kation basa di dalamnya yang berukuran lebih banyak seperti unsur kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na). Sebaliknya, kesuburan tanah akan berkurang apabila kandungan asam di dalamnya lebih banyak seperti unsur aluminium (Al) dan hidrogen (H). Tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah berpasir (Muslimin et al., 2012).