Menghadirkan Senyum Anak Suku Tengger Melalui Sekolah Baru

Menghadirkan Senyum Anak Suku Tengger Melalui Sekolah Baru

Menghadirkan Senyum Anak Suku Tengger Melalui Sekolah Baru

Menghadirkan Senyum Anak Suku Tengger Melalui Sekolah Baru
Menghadirkan Senyum Anak Suku Tengger Melalui Sekolah Baru

Puluhan anak suku Tengger, di Kabupaten Pasuruan, kesulitan mengikuti pelajaran bahkan ada yang putus sekolah, karena jarak sekolah cukup jauh dan sulit dijangkau dari dusun mereka yang terpencil. Namun Sekolah Alam Anak Tenger yang selesai dibangun, memberikan harapan baru akan masa depan anak-anak suku Tengger di kawasan Pegunungan Bromo dan Tengger ini.

Tiupan alat musik terompet yang harmonis dengan gamelan khas suku Tengger mengiringi peresmian dan penyerahan Sekolah Alam Anak Tengger di Dusun Ketuwon, Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Sejumlah anak perempuan berpakaian kebaya khas Tengger serta anak laki-laki berbeskap hitam dengan lilitan ikat kepala atau udeng, memenuhi jalan di samping sekolah yang dibangun oleh Yayasan Arek Lintang (ALIT) bersama sejumlah donatur.

Usai penyerahan dari Yayasan ALIT kepada Kepala Desa Ngadiwono, anak-anak memasuki bangunan sekolah mereka yang baru, yang terdiri dari 2 kelas dan 1 kamar mandi. Putri Erika, salah satu siswi kelas 2 SD, mengaku senang dengan adanya sekolah baru di kampungnya. Selama ini ia harus sekolah di Desa Banyumeneng, yang jaraknya cukup jauh dari rumah dan melewati hutan serta sungai.

“Senang, karena dekat. Selama ini sekolahnya jauh, di Banyumeneng,

jaraknya sekitar empat kilometer,” kata Putri Erika.

Rasa syukur juga diungkapkan Naning, salah satu orang tua murid. Naning berterima kasih telah dibangunkan gedung sekolah dan tempat berkegiatan di dusunnya, sehingga ia tidak perlu lagi kesulitan mengantar anaknya sekolah.
Anak-anak suku Tengger membunyikan gamelan slompretan mengiringi peresmian dan penyerahan sekolah (Foto: VOA/Petrus Riski)
Anak-anak suku Tengger membunyikan gamelan slompretan mengiringi peresmian dan penyerahan sekolah (Foto: VOA/Petrus Riski)

“Senang, karena ada kegiatan di kampung sendiri. Terlalu jauh kalau ada di Banyumeneng. Banyak terima kasih di sini ada sekolahan.”

Kepala Desa Ngadiwono, Atim Priyono mengatakan, kondisi akses jalan yang berbatu dengan letak desa yang cukup terpencil, membuat anak-anak sering tidak masuk sekolah. Keberadaan gedung sekolah yang baru didirikan ini dirasakan sangat membantu orang tua yang memiliki anak-anak usia sekolah agar tidak tertinggal pendidikannya daripada anak-anak di dusun dan desa lain.

“Ada sebagian yang ikut kegiatan sekolah di SDN Ngadiwono,

tapi ada sebagian juga yang tidak mau untuk belajar karena faktor kondisi akses jalan tersebut. Dari Ngadiwono ke Ketuwon tujuh kilometer, tapi untuk Ketuwon ke Ngadiwono lima kilometer, dan jalannya njenengan (Anda) bisa lihat sendiri kondisi di lapangan, faktanya seperti itu (rusak), kami tidak mengada-ada, dan memang berat dan sulit dirasakan untuk anak-anak di masa sekarang untuk bisa sampai ke lokasi sekolah. Apalagi kalau kondisinya seperti ini, musim hujan, orang tua harus mengawal terus, untuk kegiatan anak, seringkali bolos,” jelas Atim Priyono.

Menurut Ahmad Nur Hidayat, salah satu warga setempat, sebelum ada gedung Sekolah Alam Anak Tengger ini, sekitar 40 anak di Dusun Ketuwon, Desa Ngadiwono, harus belajar bersama di salah satu ruang kecil di balai dusun. Bahkan saat balai dusun direnovasi, anak-anak belajar maupun melakukan aktivitas seni dan budaya di sanggar Pura Kamandalu, yang ada di dusun mereka.

“Seni budaya, menari, dan slompretan itu. Kalau untuk literasi di bawah

, di balai dusun itu ada taman baca, jadi sementara dulu kita belum ada gedung kita pakai di balai dusun situ. Dulu pernah waktu balai dusun bocor ya, jadi masih belum direnovasi itu, kalau belajar di sini, di sanggar Pura Kamandalu,” jelasnya.

Direktur Eksekutif Yayasan Arek Lintang (ALIT), Yuliati Umrah mengungkapkan, Dusun Ketuwon di Desa Ngadiwono dipilih untuk lokasi Sekolah Alam Anak Tengger, karena lokasinya yang masih sulit dijangkau serta fasilitas dan sarana yang masih minim dibandingkan dusun atau desa lain. Keberadaan sekolah ini diharapkan dapat mengurangi angka anak putus sekolah, dan angka pernikahan dini pada anak.

“Dari observasi di beberapa dusun di wilayah Kecamatan Tosari, ini salah satu yang paling sulit, karena fasilitas yang ada di Tosari ini kan ke sini jauh banget, terus waktu itu jalan belum dibangun aksesnya, ya baru ketemu pak Kades ini terus jalan dibangun dari dana Desa. Waktu kita turun itu belum ada dana desa, kondisinya masih parah, ketika program dana desa itu dari pak Jokowi, bapak jadi Kades, ini mulai dibangun. Nah, ini memungkinkan untuk orang luar bisa membantu, makanya sekolah kita pilih di sini, dari aspek luar bisa masuk membantu, anak-anak tidak harus ke atas (Banyumeneng) dulu,” kata Yuliati Umrah.

 

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/263H0v884Rs