Masalah yang diperdebatkan Pada Mu’tazilah

Masalah yang diperdebatkan Pada Mu’tazilah

Masalah yang diperdebatkan Pada Mu’tazilah

Masalah yang diperdebatkan Pada Mu’tazilah

  1. Ketauhidan

Kaum mu’tazilah menafikan (menyangkal) sifat-sifat ALLAH. Mereka beranggapan seandainya diakui sifat – sifat ALLAH yang qodim berarti ada banyak sifat qodim. Mereka juga mengatakan bahwa tindakan dan perbuatan makhluk bukanlah diciptakan oleh ALLAH melainkan oleh makhluk itu sendiri. Jadi, menurut mereka ALLAH hanya menciptakan makhluk, lalu makhluk itu menciptakan pekerjaan sendiri.

Aswaja mentauhidkan ALLAH beserta sifat – sifat-Nya. Yang qadim adalah zdat ALLAH. Sedangkan sifat – siifat ALLAH adalah sifat dari zdat yang qadim tersebut. Aswaja beranggapan bahwa perbuatan dan tindakan makhluk bukanlah semata – mata diciptakan oleh makhluk itu sendiri, tetapi di dalamnya juga terdapat campur tangan ALLAH atau kehendak ALLAH dengan berpedoman :

لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِاللّْهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

  1. Keadialan Tuhan

Adil artinya ALLAH Maha Adil, dan kaum mu’tazilah beri’tikad ALLAH wajib berlaku adil terhadap hamba-Nya. Keadilan-Nya itu mengharuskan manusia memiliki kekuasaan untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri. Karena manusia itu menciptakan perbuatannya sendiri, maka manusia bertanggung jawab atas perbuatannya, baik berupa perbuatan baik maupun perbuatan buruk.

Aswaja beri’tikad bahwa ALLAH selalu adil dalam tindakan-Nya dan tidak pernah dholim. Pembalasan surga bagi yang taat adalah berkat karunia-Nya, sedangkan pembalasan neraka bagi yang ma’siat adalah berdasarkan keadilan-Nya. Semua tindakan ALLAH terhadap hamba-Nya berkisar antara fadhlih (karunia) dan adlih(keadilan). Aswaja beri’tikad semua itu milik ALLAH, apapun yang diperbuat terhadap makhluk atau hamba adalah hak-Nya, tidak ada satupun yang menggugat dan mengatakan ALLAH itu zdalim.

  1. Janji & ancaman (wa’ad & wa’id)

Wa’ad ialah janji positif, seperti janji pahala. Wa’id ialah janji negatif, seperti janji siksaan. Mu’tazilah berpendapat bahwa ALLAH wajib menepati janji dunia maupun akhirat sesuai perintah dan larangan-Nya. Jadi, apa yang diperintahkan ALLAH kalau dilakukan mendapat wa’ad (pahala). Sebaliknya kalau ditinggalkan,mendapat wa’id (siksa).

Menurut kaum Ahlus Sunnah wa’ad dan wa’id ialah janji ALLAH yang azali (qadim) sebelum makhluk berwujud. Jadi, apa yang diperoleh hamba berupa pahala dan siksa sesuai dengan wa’ad dan wa’id azali (qadim), bukan karena perbuatannya dalam melaksanakan perintah ataupun meninggalkan larangan.

  1. Kedudukan antara Dua tempat (manzilah baina manzilataini)

Manzilah baina manzilataini ialah posisi antara kafir dan mukmin. Kaum mu’tazilah beri’tikad bahwa pelaku dosa besar bukan mukmin dan bukan pula kafir, melainkan berada di antara keduanya. Yaitu berada di kedudukan fasiq. Pendapat ini merupakan jalan tengah antara vonis yang dijatuhkan oleh pengikut Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar, dengan pendapat kaum Murjiah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sebagai seorang mu’min. Washil bin Atho berpendapat bahwa pelaku dosa besar yang mati sebelum bertaubat akan menjadi penghuni tetap neraka. Ia kekal di dalamnya, namun dengan memperoleh keringanan tertentu.

Golongan Ahlus Sunnah tidak mengenal istilah tersebut bagi pelaku dosa besar. Pelaku dosa besar tetap disebut mukmin dan bukan kafir. Ia adalah fasik atau mukmin ‘ashi, seorang mukmin ‘ashi kalau mati sebelum bertobat, harus masuk neraka lebih dahulu kemudian dipindahkan ke surga.

 

  1. Amar ma’ruf nahi munkar

Kaum mu’tazilah beri’tikad bahwa amar ma’ruf nahi munkar harus secara radikal dan kalau perlu dengan mengangkat senjata. Mu’tazilah memberikan perhatian besar terhadap masalah tersebut. Hal ini karena menurut mereka, pada saat itu ahluz zindiq (secara umum diartikan orang yang menghalalkan segala cara; kafir batinnya, tetapi secara lahir menampakkan keimanan) tengah merajalela di kalangan masyarakat, bahkan telah tersebar di seluruh pelosok wilayah Islam.

Sedangkan kaum Ahlus Sunnah dalam beramar ma’ruf nahi munkar harus dengan cara lunak dan kalau tidak berhasil, baru dengan kekerasan. Jadi, tidak langsung dengan menggunakan kekerasan.


Sumber:

https://sonymusic.co.id/perubahan-sosial-dan-budaya-dan-karakteristik/