Landasan Teori

 Landasan Teori

2.1.1. Tanaman Kedelai

Kedelai merupakan tanaman asli Daratan Cina dan telah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan makin berkembangnya perdagangan antarnegara yang terjadi pada awal abad ke-19, menyebabkan tanaman kedalai juga ikut tersebar ke berbagai negara tujuan perdagangan tersebut, yaitu Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia, dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di Pulau Jawa, kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau lainnya.

Pada awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine soja dan Soja max. Namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merill. Klasifikasi tanaman kedelai sebagai berikut:

  • Kingdom: Plantae (tumbuh-tumbuhan)
  • Divisio  : Spermatophyta
  • Classis : Dicotyledoneae
  • Ordo  : Rosales
  • Familia : Papilionaceae
  • Genus  : Glycine
  • Species : Glycine max (L.) Merill

            Kedelai merupakan sumber protein nabati yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, sehingga dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kesadaran akan kebutuhan protein berdampak pada kebutuhan akan kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun . Rata-rata kebutuhan kedelai setiap tahunnya sebesar ± 2,2 juta ton biji kering, akan tetapi kemampuan produksi dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sebanyak 779.992 ton (ATAP Tahun 2013, BPS) atau 33,91 % dari kebutuhan sedangkan berdasarkan ARAM II tahun 2014 baru mencapai 921.336 ton atau 40,06 %.

Untuk memenuhi kekurangan tersebut harus dipenuhi dari impor yang menyebabkan berbagai kerugian bagi Indonesia antara lain :  hilangnya devisa negara yang cukup besar, mengurangi kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia dan meningkatnya ketergantungan jangka panjang. Sehingga dengan adanya fenomena ini akan mempengaruhi sistem ketahanan pangan nasional.

Dalam upaya mencapai swasembada kedelai yang di targetkan pada tahun 2017, perlu disiapkan rencana strategis dalam mengembangkan budidaya kedelai sejak tahun 2015. Berbagai kendala yang dihadapi dilapangan adalah selain masih rendahnya produktivitas, kepemilikan lahan yang sempit dan semakin menurunnya luas panen adalah rendahnya harga jual ditingkat petani yang sangat signifikan menurunkan gairah minat petani membudidayakan kedelai.

Untuk meningkatkan gairah dan semangat petani mengembangkan kedelai, pada tahun 2015 pemerintah akan memberikan bantuan paket sarana produksi melalui BANSOS dengan program/kegiatan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) dan Optimasi Perluasan Areal Tanam melalui Peningkatan Indek Pertanaman (PAT-PIP).

Pos-pos Terbaru