Ketentuan Zakat dan Muzakki

Ketentuan Zakat dan Muzakki

Ketentuan Zakat dan Muzakki

Ketentuan Zakat dan Muzakki
Ketentuan Zakat dan Muzakki

 

Ketentuan Zakat Fitrah

Sahabat pencinta zakat, kali ini kita akan membahas tentang ketentuan ketentuan zakat fitrah. Sebelumnya admin sudah membuat artikel penting mengenai hadits tentang zakat yang penting untuk diketahui.
Sahabat pencinta zakat, suatu ibadah mahdhoh seperti zakat dan sholat memiliki aturan dan cara-cara tertentu yang harus kita ikuti sebelum kita mengamalkannya. Tidak mungkin kita sholat seenaknya tanpa mengikuti contoh dari rosul. Begitu juga zakat, sebelum kita melaksanakan kewajiban ini, kita harus mengetahui dulu bagaimana cara-cara serta ketentuan zakat yang benar itu. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui ketentuan zakat seperti yang dicontohkan Rosul SAW. Pada artikel ini anda akan menemukan ketentuan ketentuan dalam zakat fitrah, silahkan simak selengkapnya dibawah ini.

Orang Yang Wajib Membayar Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat bagi setiap jiwa yang berada di keluarga muslim, sampai bayi didalam kandungan yang telah mencapai usia 4 bulan atau 120 hari. Hal ini berdasarkan sabda Rosululloh SAW sebagai berikut:

“Dari Ibnu Umar r.a ia berkata, “Rosululloh saw mewajibkan zakat fitrah satu sha’ dari syair (gandum) atau satu sha’ dari kurma atas manusia masih kecil dan manusia sudah besar, manusia merdeka dan hamba sahaya.” (H.R. Bukhori)

Dari hadits tersebut jelas bahwa setiap orang islam wajib mengeluarkan zakat, baik itu orang tua atau anak kecil, laki-laki atau perempuan, bahkan bayi yang baru 4 bulan juga sudah wajib bayar zakat karena saat itu anak tersebut sudah diberi ruh oleh Alloh SWT, tentunya bukan anak tersebut yang membayar zakat fitrahnya, tetapi orang tuanya.

Barang Yang Dipakai Untuk Membayar Zakat Fitrah

“Dari Abu Said Al-Khudri r.a ia berkata, “Kamu memberikan zakat pada masa rosululloh SAW satu sha’ dari makanan kurma, gandum, atau satu sha’ dari anggur kering (kismis). Ketika Muawwiyah datang dan datang pula gandung syami, ia berkata, “Dilihat bahwa satu mud barang ini seimbang dengan dua mud.” (H.R. Shohih Bukhori)

Penjelasan

Pada hadits diatas jelas sekali bahwa barang yang bisa dipakai untuk membayar zakat dan zakat fitrah sebenarnya apa saja bisa, begitu juga dengan uang. Pada hadits diatas disebutkan satu sha’ zabib yang artinya anggur yang telah dikeringkan atau kismis. Seperti yang kita tahu bahwa kismis itu bukan makanan pokok, tetapi sering dipakai untuk mencampur kue, roti, jadi makanan kecil atau cemilan. Jadi sekali lagi, jelas bahwa zakat fitrah tidak harus selalu berupa makanan pokok.
Hanya apabila memperhatikan hadits diatas, rata-rata menyebutkan makanan yang mudah dimakan, tahan lama, dan teramat dibutuhkan khususnya oleh fakir miskin.

Baca Juga: