Kehidupan Politik, Ekonomi, Budaya dan Sosial Kerajaan Mataram

Kehidupan Politik, Ekonomi, Budaya dan Sosial Kerajaan Mataram 

Kehidupan Politik, Ekonomi, Budaya dan Sosial Kerajaan Mataram

Kehidupan Politik, Ekonomi, Budaya dan Sosial Kerajaan Mataram 
Kehidupan Politik, Ekonomi, Budaya dan Sosial Kerajaan Mataram

1. Sri Maharaja Rakai Pikatan (840 – 856 M)

Dinasti Sanjaya mengalami masa gemilang pada masa pemerintahan Rakai Pikatan. Dalam Prasasti Tulang Air di Candi Perut (850 M) menyebutkan bahwa Rakai Pikatan yang bergelar Ratu mencapai masa kemakmuran dan kemajuan. Pada masa pemerintahannya, pasukan Balaputera Dewa menyerang wilayah kekuasaannya. Namun Rakai Pikatan tetap mempertahankan kedaulatan negerinya dan bahkan pasukan Balaputera Dewa sanggup dipukul mundur dan melarikan diri ke Palembang.

Pada zaman Rakai Pikatan inilah dibangunnya Candi Prambanan dan Candi Roro Jonggrang. Pembuatan Candi tersebut terdapat dalam prasasti Siwagraha yang berangka tahun 856 M. Rakai Pikatan populer dengan konsepnya Wasesa Tri Dharma yang berarti tiga sifat yang mempengaruhi kehidupan manusia.

2. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856 – 882 M)

Prasasti Siwagraha menyebutkan bahwa Sri Maharaja Rakai Kayuwangi mempunyai gelar Sang Prabu Dyah Lokapala. Tugas utamanya yaitu memakmurkan, mencerdaskan, dan melindungi keselamatan warga negaranya.

Pada masa pemerintahannya, Rakai Kayuwangi menuturkan bahwa ada enam alat untuk mencari ilmu, yaitu :
1. Bersungguh-sungguh tidak gentar
Semua tutur kata dan kecerdikan bahasa dilakukan dengan baik, selaras dan menyatu.
2. Bertenggang rasa
Memperhatikan sikap yang kurang baik dengan kebenaran.
3. Ulah pikiran
Menimbang-nimbang dengan memperhatikan tujuan kemampuan dan kemauan yang diterapkan harus atas pemikiran yang tepat.
4. Penerapan pemikiran
Dalam setiap melaksanakan kehendak harus dipertimbangkan, jangan hingga tergesa-gesa. Jangan melupakan pemikiran terdahulu, pemikiran masa kini perlu untuk diketahui
5. Kemauan
Sanggup sehidup semati, mematikan keinginan dan membersihkan diri. Dalam kata lain, tekad dan niat harus dilakukan dantidak segan-segan dalam melaksanakan pekerjaan
6. Menguasai aneka macam bahasa
Memahami semua bahasa biar bisa mengatasi perhubungan serta bisa mengakrabi siapa saja.

3. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882 – 899 M)

Sri Maharaja Rakai Watuhumalang mempunyai prinsip dalam menjalankan pemerintahannya. Prinsip yang dipegangnya adalah Tri Parama Arta yang berarti tiga perbuatan untuk mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain.

Tri Parama Arta terdiri dari :
1. Cinta Kasih, mencintai dan mengasihi sesama makhluk sebagaimana mengasihi diri sendiri.
2. Punian, perwujudan cinta kasih dengan saling tolong menolong dengan memperlihatkan sesuatu yang dimiliki secara ikhlas.
3. Bakti, perwujudan hati nurani berupa cinta kasih dan sujud Tuhan, orang tua, guru dan pemerintah.

4. Sri Maharaja Watukumara Dyah Balitung (898 – 915 M)

Pada masa pemerintahannya dia mempunyai seorang teknokrat intelektual yang handal berjulukan Daksottama.

Pemikirannya mempengaruhi gagasan Sang Prabu Dyah Balitung. Masa pemerintahannya menjadi masa keemasan bagi Wangsa Sanjaya. Sang Prabu aktif mengolah cipta karya untuk menyebarkan kemajuan masyarakatnya. Dalam mengolah cipta karya, tahun 907 Dyah Balitung membuat Prasasti Kedu atau Metyasih yang berisikan nama-nama raja Kerajaan Mataram Wangsa Sanjaya. Serta menjelaskan bahwa pertunjukan wayang (mengambil lakon Bima di masa muda) untuk keperluan upacara telah dikenal pada masa itu.

5. Sri Maharaja Rakai Daksottama (915 – 919 M)

Daksottama yang berarti sorang pemimpin yang utama dan istimewa. Pada masa pemerintahan Dyah Balitung, Daksottama dipersiapkan untuk menggantikannya sebagai raja Mataram Hindu.

11.Sri Maharaja Dyah Tulodhong (919 – 921 M)

Rakai Dyah Tulodhong mengabdikan dirinya kepada masyarakat menggantikan kepemimpinan Rakai Daksottama.

Keterangan tersebut termuat dalam Prasasti Poh Galuh yang berangka tahun 809 M. Pada masa pemerintahannya, Dyah

Tulodhong sangat memperhatikan kaum brahmana

6. Sri Maharaja Dyah Wawa ( 921 – 928 M)

Rakai Sumba Dyah Wawa dinobatkan sebagai raja Mataram pada tahun 921 M. Beliau populer sebagai raja yang andal dalam berdiplomasi, sehingga sangat populer dalam kancah politik internasional.

Roda perekonomian pada masa pemerintahannya berjalan dengan pesat. Dalam menjalankan pemerintahannya Dyah Wawa mempunyai visi Tri Rena Tata yang berarti tiga hutang yang dimiliki manusia. Pertama hutang kepada Tuhan yang menciptakannya, Kedua hutang jasa kepada leluhur yang telah melahirkannya. Dan ketiga, hutang ilmu kepada guru yang telah mengajarkannya.

7. Sri Maharaja Rakai Empu Sendok (929 – 930 M)

Empu Sendok, populer dengan kecerdasan, ketangkasan, kejujuran dan kecakapannya. Manajemen dan Akuntansi dikuasai, psikologi diperhatikan.

Sumber: https://www.pendidik.co.id/12-hukum-bacaan-tajwid-beserta-contohnya-yang-harus-diketahui/