KEHIDUPAN EKONOMI, SOSIAL, POLITIK DAN BUDAYA

KEHIDUPAN EKONOMI, SOSIAL, POLITIK DAN BUDAYA

KEHIDUPAN EKONOMI, SOSIAL, POLITIK DAN BUDAYA

KEHIDUPAN EKONOMI, SOSIAL, POLITIK DAN BUDAYA
KEHIDUPAN EKONOMI, SOSIAL, POLITIK DAN BUDAYA

Dari prasasti Metyasih tersebut, didapatkan nama-nama raja dari Wangsa Sanjaya yang pernah berkuasa, yaitu :

1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760 M)

Masa Sanjaya berkuasa yakni masa-masa pendirian candi-candi siwa di Gunung Dieng. Kesusasteraan tidak menjadi monopoli kelas profesional. Pendidikan puisi merupakan pendidikan yang wajib diikuti oleh umum, terlebih bagi kalangan pegawai istana dan pemuka masyarakat.

Sanjaya memperlihatkan wejangan-wejangan luhur untuk anak cucunya. Apabila sang Raja yang berkuasa memberi perintah, maka dirimu harus berhati-hati dalam tingkah laku, hati selalu setia dan taat mengabdi pada sang raja. Bila melihat gerak lirik raja, tenagkanlah dirimu mendapatkan perintah dan tindakan dan harus menangkap isinya. Bila belum bisa mengadu kemahiran menagkap tindakan, lebih baik duduk bengong dengan hati ditenangkan dan jangan gentar dihadapan sang raja.

Sanjaya selalu menganjurkan perbuatan luhur kepada seluruh punggawa dan prajurit kerajaan. Ada empat macam perbuatan luhur untuk mencapai kehidupan sempurna, yaitu :
· Tresna (Cinta Kasih)
· Gumbira (Bahagia)
· Upeksa (tidak mencampuri urusan orang lain)
· Mitra (Kawan, Sahabat, Saudara atau Teman)

Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya mangkat kira-kira pertengahan masa ke-8 M. Ia digantikan oleh putranya Rakai Panangkaran.

2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780 M)

Rakai Panangkaran yang berarti raja mulia yang berhasil mengambangkan potensi wilayahnya. Rakai Pangkaran berhasil mewujudkan impian ayahandanya, Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya dengan mengambangkan potensi wilayahnya.
Nasehatnya yang populer wacana kebahagiaan hidup manusia yakni :
· Kasuran (Kesaktian)
· Kagunan (Kepandaian)
· Kabegjan (Kekayaan)
· Kabrayan (Banyak Anak Cucu)
· Kasinggihan (Keluhuran)
· Kasyuwan (Panjang Umur)
· Kawidagdan (Keselamatan)

Menurut Prasasti Kalasan, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dibangun sebuah candi yang berjulukan Candi Tara, yang didalamnya tersimpang patung Dewi Tara. Terletak di Desa Kalasan, dan kini dikenal dengan nama Candi Kalasan.

3. Sri Maharaja Rakai Panaggalan (780-800 M)

Rakai Pananggalan yang berarti raja mulia yang peduli terhadap siklus waktu. Beliau berjasa atas sistem kalender Jawa Kuno. Rakai Panggalan juga memperlihatkan rambu-rambu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mirip berikut ini“Keselamatan dunia supaya diusahakan biar tinggi derajatnya. Agar tercapai tujuannya tapi jangan lupa akan tata hidup”

Visi dan Misi Rakai Panggalan yaitu selalu menjunjung tinggi arti penting ilmu pengetahuan. Perwujudan dari visi dan misi tersebut yaitu Catur Guru. Catur berarti empat Guru berarti berat. Makara artinya empat guru yang mempunyai kiprah berat. Catur Guru terdiri dari :
· Guru Sudarma, orang renta yang melairkan manusia.
· Guru Swadaya, Tuhan
· Guru Surasa, Bapak dan Ibu Guru di sekolah
· Guru Wisesa, Pemerintah pembuat undang-undang untuk kepentingan bersama

Pemberian penghormatan dalam bidang pendidikan, maka kesadaran aturan dan pemerintahan di Mataram masa Rakai Pananggalan sanggup diwujudkan.

4. Sri Maharaja Rakai Warak (800-820 M)

Rakai Warak, yang berarti raja mulia yang peduli pada impian luhur. Pada masa pemerintahannya, kehidupan dalam dunia militer berkembang dengan pesat. Berbagai macam senjata diciptakan. Rakai Warak sangat mengutamakan ketertiban yang berlandaskan pada etika dan moral. Saat Rakai Warak berkuasa, ada tiga pesan yang diberikan, yaitu :
1. Kewajiban raja yakni jangan hingga terlena dalam menata, meneliti, menyidik dan melindungi.
2. Pakaian raja yakni menjalankanlah dengan adil dalam memberi eksekusi dan ganjaran kepada yang bersalah dan berjasa.
3. Kekuatan raja yakni bisa mengasuh, merawat, mengayomi dan memberi anugrah.

5. Sri Maharaja Rakai Garung (820-840 M)

Garung mempunyai arti raja mulia yang tahan banting terhadap segala macam rintangan. Demi memakmurkan rakyatnya, Sri Maharaja Rakai Garung bekerja siang hingga malam. Hal ini dilakukan tak lain hanya mengharap keselamatan dunia raya yang diagungkan dalam ajarannya.

Dalam menjalankan pemerintahannya Rakai Garung mempunyai prinsip tri kaya parasada yang berarti tiga sikap insan yang suci. Tri Kaya Parasada yang dimaksud, yaitu :
· Manacika yang berarti berfikir yang baik dan benar.
· Wacika yang berarti berkata yang baik dan benar.
· Kayika yang berarti berbuat yang baik dan benar.

Sumber: https://www.pendidik.co.id/pengertian-kartu-kredit-jenis-ciri-keuntungan-kerugiannya-lengkap/