Kapankah Malam Lailatul Qadar itu?

Kapankah Malam Lailatul Qadar itu?

Kapankah Malam Lailatul Qadar itu?

Kapankah Malam Lailatul Qadar itu?
Kapankah Malam Lailatul Qadar itu?

 

Gambaran Lailatul Qadar

Ulama salaf mencoba memberikan gambaran yang lebih konkrit tentang waktunya malam lailatul qadar, dan apa saja tanda-tanda bahwa malam itu malam lailatul qadar. Dalam satu tahun, malam lailatul qadar terdapat dalam bulan Ramadlan, dari 30 hari bulan Ramadlan menurut sebagian besar ulama, terdapat dalam sepuluh hari terahirnya Ramadlan. Dan dari sepuluh hari terahir dari bulan Ramadlan terjadi pada malam yang ganjil. Terdapat riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, atau malam 29 bulan Ramadhan. Beliau SAW
mengatakan : “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari)

Menurut sebagian Ulama Syafi’iyah, dari malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir, yang lebih memungkinkan terjadinya malam lailatul qadar adalah malam ke 21 dan malam ke 23.

Ciri Malam Lailatul Qadar

Ciri malam lailatul qadar atau tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa malam tersebut merupakan malam lailatul qadar adalah suasana pada malam tersebut tidak panas, tidak dingin, tidak ada mega (mendung), tidak ada hujan, tidak ada angin yang berhembus dengan cepat, tidak ada bintang jatuh dan pada pagi harinya matahari bersinar redup (tidak bersinar dengan terang).
Rasulullah SAW bersabda :
“Pagi hari dari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar, seperti bejana dari tembaga sampai tinggi.” (HR. Muslim).

“Lailatul Qadar adalah malam yang tenang, cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari terbit di pagi harinya lemah dan berwarna merah.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dan Al- Bazzar)

Menghidupkan Malam Lailatul Qadar

Hidupkanlah Lailatul Qadar dengan sholat, membaca Al- Qur’an, dzikir, istighfar dan berdo’a, sejak terbenamnya matahari sehingga terbit fajar. Dan hidupkan Ramadhan dengan sholat tarawih di dalamnya. Di dalam hadist sahih diriwayatkan, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang sholat Isya’ berjamaah, seolah-olah ia berqiam (qiyamul lail) di separuh malam, dan barangsiapa yang solat subuh berjamaah, seolah-olah ia sholat disepanjang malam tersebut”. (HR. Ahmad, Muslim).

Pada malam Al-Qadar sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a, lebih-lebih doa malam lailatul qadar yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata:
“Katakan padaku wahai Rasulallah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya..?”. Beliau menjawab, “Katakanlah : Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku). (.HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Selain itu, dianjurkan untuk mengikut sertakan anak, istri dan keluarga yang lain dalam menghidupkan malam 1.000 bulan ini. ‘Aisyah RA berkata, “Apabila Nabi SAW memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari)

Bagi wanita yang sedang berhalangan (haidl, nifas dst) tetap dianjurkan untuk menghidupkan malam lailatul qadar dengan berdzikir, dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya, memperbanyak istighfar, memperbanyak do’a dan lain-lain.

Hikayat

Ada sebuah hikayat, ada seorang majusi (penyembah matahari) melihat anaknya tidak tahu diri, dalam bulan Ramadhan makan di pasar, lalu ia menghajarnya dengan pukulan, katanya : “Kenapa kamu tidak tahu diri dalam bulan Ramadhan, yang seharusnya engkau pandai menghormati umat Islam yang tengah berpuasa?”. Ahirnya, orang majusi itu meninggal dunia, dan pada suatu malam seorang ‘alim mimpi bertemu dengannya, ia berada di ranjang indah di sorga, ketika ditanya : “Anda kan orang Majusi, kenapa di tempat ini?”. Jawabnya : “Betul, semula memang aku orang Majusi, tetapi menjelang maut tiba, tersentuh hatiku untuk memeluk Islam, saat itu aku mendengar seruan di atasku : “Hai para malaikatKu, jangan biarkan ia mati tersesat dengan agama majusinya, angkatlah dia menjadi seorang muslim terhormat, sebab ia telah menghormati bulan suci Ramadhan”.

Demikian sekilas uraian tentang kapan lalatul qadar turun. Moga bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: