Jangan Keseringan Bohong di Facebook, Bisa Lupa Ingatan

Jangan Keseringan Bohong di Facebook, Bisa Lupa Ingatan

Jangan Keseringan Bohong di Facebook, Bisa Lupa Ingatan

 

 Jangan Keseringan Bohong di Facebook, Bisa Lupa Ingatan
Jangan Keseringan Bohong di Facebook, Bisa Lupa Ingatan

NGONOO.com – Segala sesuatu pasti mengandung sisi positif dan negatif. Begitu kata banyak orang. Termasuk

Facebook, memiliki nilai positif dan negatif tergantung dari para penggunanya. Bukan saja tindak kriminal yang bisa merugikan orang lain,tetapi juga sesuatu yang mungkin tidak kita sadari sudah kita lakukan sejak lama, dan itu berpotensi merugikan diri kita sendiri.

Berbagi momen, cerita, hal menyenangkan di Facebook dianggap sebagai salah satu hal keren yang kekinian. Gampangnya sih, kebanyakan orang sekarang menjadikan Facbeook sebagai diari pribadi. Apapun yang dialami harus segera dibagikan ke Facebook.
Jempol Like

Jempol Like

Nah yang cukup miris, adalah sebuah hasil studi dari lembaga analisis bernama Pencourage. Tren pamer status di Facebook, ternyata berdampak lain, yakni meningkatnya pengguna yang mem-posting suatu kebohongan. Banyak orang kemudian memposting atau membuat status, yang tidak sesuai dengan kondisi aslinya agar terlihat keren dan memiliki kehidupan yang fantastis di mata teman-teman sosial medianya.

Sekedar lucu-lucuan, mungkin tidak masalah. Tetapi jika hal itu dilakukan secara sadar untuk membuat dirinya

terlihat menarik di sosial media, dan dilakukan dengan konsisten, ternyata ada pengaruh yang berbahaya dari kegiatan tersebut mas bero dan mbak sest. Pencourage mengatakan, perilaku pengguna yang seperti itu memiliki potensi menyebabkan kerusakan otak pelaku. Kebohongan yang dipublikasikan di Facbeook, atau jejaring sosial lain, dinilai bisa menyebabkan ingatan masa lalu lama kelamaan terdistorsi oleh informasi palsu yang dibuat sendiri.

“Bersaing dan ingin mengedepankan segala yang terbaik, mencari perhatian atau empati dari orang lain adalah sesuatu yang lumrah. Akan tetapi sisi buruknya adalah ketika Anda semakin jauh menyelami hal tersebut, kemudian menyangkal hal otentik dari diri kita sendiri, sampai pada tingkatan kita tak lagi bisa mengenali pengalaman-pengalaman, memori tentang diri kita sendiri,” jelas Dr Richard Sherry, psikolog dari tim peneliti Pencourage dikutip dari laman Liputan6 yang melansir berita dari The Telegraph.

Menurut penelitian tersebut, kebanyakan usia yang sering berbohong di sosial media berkisar antara 18-24 tahun

(untung daku 17). Biasanya, yang menjadi topik kebohongan adalah hubungan cinta, pekerjaan, dan liburan.

Jadi mulai sekarang, kalau kamu seorang #piyambakan, lebih baik mengaku saja. Jangan pura-pura punya pacar 10 ya. 😀

Baca Juga: