Fase pelaksanaan (Marhalah al Tanfids)

 Fase pelaksanaan (Marhalah al Tanfids)

Pada fase inilah pelaku dapat dianggap sebagai jarimah. Untuk dapat dikenakan hukuman bila perbuatannya itu merupakan suatu maksiat meskipun belum selesai. Perbuatan pelaksanaan adalah perbuatan yang sedemikian berhubungan langsung dengan kejahatan, sehingga dapat dikatakan bahwa pelaksanaan daripada kejahatan sudah dinulai[6]. Hal ini sesuai dengan pasal 53 KUHP[7] ayat 1 yaitu percobaan akan melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan dan tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri.

2.      Sebab Tidak Selesainya Perbuatan

Suatu perbuatan jarimah tidak selesai dilakukan oleh pembuat disebabkan karena salah satu dari dua hal sebagai berikut:

a.       Adakalanya karena terpaksa

b.      Adakalanya karena kehendak sendiri. Berdasarkan karena kehendak sendiri, ini ada dua macam:

·         Bukan karena taubat

·         Karena taubat

Jika tidak selesainya jarimah itu karena terpaksa maka pelaku tetap harus dikenakan hukuman, selama perbuatannya berkategorikan maksiat. Demikian pula halnya dengan tidak menyelesaikan jariamah karena kehendak sendiri tetapi bukan karena taubat.

Apabila tidak selesainya kejahatan itu disebabkan pelakunya bertaubat, para ulama berbeda pendapat:

1.      Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad berpendapat bahwa taubat itu tidak menghapuskan hukuman

لقد تاب توبة لوقسمت علي سبعين من اهل المدينة لو سعتهم

“Sesungguhnya ia telah taubat dan andaikata taubatnya dibagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah akan mencukupi”.

2.      Sebagian Syafi’iyyah menyatakan bahwa taubat dapat menghapuskan hukuman.

فمن تاب من بعد ظلمه واصلح فان الله يتوب عليه ان الله غفور رحيم (المائدة :٣٩)

sumber :