Fakta Sebagai Unsur Dasar Penalaran Ilmiah

Fakta Sebagai Unsur Dasar Penalaran Ilmiah

Fakta Sebagai Unsur Dasar Penalaran Ilmiah

Fakta Sebagai Unsur Dasar Penalaran Ilmiah
Fakta Sebagai Unsur Dasar Penalaran Ilmiah

 

Fakta Sebagai Unsur Dasar Penalaran Ilmiah

Penalaran memerlukan fakta sebagai unsur dasarnya, karena itu agar dapat menalar dengan tepat perlu kita miliki pengetahuan tentang fakta yang berkaitan. Jumlah fakta tidak terbatas dan sifatnya beragam. Fakta saling berkaitan baik secara fungsional maupun dalam hubungan sebab-akibat. Kita dapat menggolongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya, Proses seperti itu disebut pembagian.

Berikut proses pembagian :

  1. Kalsifikasi ; membuat klasifikasi mengenai sejumlah fakta, berarti memasukan fakta-fakta ke dalam suatu hubungan logis berdasarkan suatu sistem. Dengan klasifikasi maka fakta dapat ditempatkan di dalam suatu sistem kelas sehingga dapat dikenali hubungannya secara horizontal dan vertikal ke samping serta ke atas dan ke bawah. Suatu klasifikasi dapat dikatakan berhenti apabila sudah sampai kepada individu yang tidak dapat diklasifikasikan lebih lanjut meskipun dapat dimasukkan kedalam suatu jenis individu. Contoh : “Dani adalah manusia” , tetapi tidak “Manusia adalah Dani” karena Dani adalah individu dan bersifat unik. Klasifikasi atau pengelompokan berbeda dengan pembagian. Pembagian lebih bersifat kuantitatif, tanpa suatu kriteria atau ciri penentu. Misalnya, seratus orang mahasiswa dibagi menjadi lima kelompok yang terdiri dari dua puluh orang. Ini merupakan pembagian. Tetapi jika pembagian itu didasarkan atas tinggi badan atau fakultasnya, maka pembagian itu merupakan klasifikasi, yaitu berdasarkan tinggi badan atau fakultas. Kelas dipecah berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut : Jenis klasifikasi dan Persyaratan klasifikasi
  2. Analogi ; merupakan suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran suatu gejala khusus lain yang meiliki sifat-sifat penting.
  3. Hubungan Sebab-Akibat ; penalaran dari sebab ke akibat dimulai dengan pengamatan sebab yang sudah diketahui. Lalu kemudian ditarik kesimpulan mengenai akibat yang ditimbulkan.

Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif berdasarkan atas prinsip umum yang kemudian ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus yang merupakan bagian dari suatu gejala. Atau dengan kata lain penalaran deduktif bergerak dari sesuatu yang umum kepada yang khusus.

  1. E) Silogisme

Merupakan bentuk penalaran deduktif yang formal, yang tidak sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Proses penalaran dimulai dari premis mayor melalui premis minor sampai pada kesimpulan. Strukturnya tetap: premis mayor, premis minor, kesimpulan.Premis mayor berisi pernyataan umumPremis  minor  berisi pernyataan  yang  lebih khusus  yang  merupakan  bagian premis mayor (term mayor). Silogisme selalu lebih khusus daripada premisnya.

Silogisme dapat dituliskan sebagai berikut :

Jika A=B dan B=C maka A=C
a/ Premis dan TermProposisi ialah kalimat logika yang merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua atau beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah. Premis ialah pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan. Term ialah suatu kata atau kelompok kata yang menempati fungsi subjek atau predikat.b/ Macam-macam ProposisiProposisi digolongkan berdasarkan beberapa kriteria sebagai berikut :

  • Menurut bentuknya, dibedakan sebagai proposisi tunggal (proposisi yang berisi hanya satu pernyataan) dan proposisi majemuk (merupakan gabungan antara dua proposisi tunggal).
  • Menurut sifat dan pembenaran hubungan antara subjek dan predikat.
  • Berdasarkan kuantitasnya
  • Berdasarkan kualitas

c/ Distribusi TermTerm bersifat distributif atau non-distributif. Dikatakan distributif jika meliputi denotasinya dan dikatakan non-ditributif jika meliputi sebagian saja.

F) Entimem

Dalam entimem sama seperti silogisme hanya saja dalam entimem salah satu premisnya di hilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.

G) Salah Nalar

Kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran yang kita sebut salah nalar. Dalam hal ini mencakup dua jenis kesalahan menurut penyebabnya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan kesalahan karena materi dan proses penalarannya yang merupakan kesalahan formal.

>> Kesalahan Informal Sebagai sarana penalaran terutama penalaran ilmiah bahasa mengandung banyak kelemahan. Kata-kata yang sering kali tidak tegas maknanya, sehingga dapat diartikan bermacam-macam. Yang termasuk ke dalam jenis kesalahan ini ialah :

  • Argumentum ad Hominem (argumentasi yang ditujukan kepada diri orang) ; kesalahan itu  terjadi bila seseorang  mengambil  keputusan atau kesimpulan  tidak berdasarkan pada penalaran  melainkan untuk  kepentingan  dirinya,  dengan mengemukakan alasan yang tidak logis sebenarnya.
  • Kesalahan Aksidensi ; kesalahan  terjadi  akibat penerapan prinsip umum terhadap keadaan yang bersifat aksidental, yaitu suatu keadaan atau kondisi kebetulan yang tidak seharusnya.
  • Kesalahan Komposisi dan Divisi ; terjadi  jika  kita  menerapkan predikat  individu  kepada kelompoknya.

>> Kesalahan Informal

  • Kesalahan InduktifKesalahan  induktif  terjadi  sehubungan dengan  proses  induktif.  Kesalahan  ini mungkin merupakan kesalahan generalisasi, hubungan sebab akibat, dan analogi.- Generalisasi Terlalu Luas- Hubungan Sebab Akibat yang Tidak Memadai- Kesalahan Analogi
  • Kesalahan Deduktif– Kesalahan  premis mayor yang tidak dibatasi- Kesalahan term keempat- Kesalahan kesimpulan dari premis-premis negatif

Sumber : https://pendidikan.id/main/forum/diskusi-pendidikan/mata-pelajaran/11142-rumus-volume-tabung