Dinasti Mawahhidun

 Dinasti Mawahhidun

Dinasti Muwahhidun berawal dari gerakan-gerakan agama-politik yang didirikan oleh seorang dari Berber. Dia adalah Muhammad ibn Tumar (1078-1130) dari suku Masmuda. Muhammad menyandang gelar simbolis al-Mahdi dan menyatakan diri sebagai Nabi yang diutus  untuk memulihkan Islam kepada bentuknya yang murni dan asli. Dia mengajarkan kepada sukunya dan suku liar lainnya di Maroko doktrin tauhid , keesaan Tuhan, dan konsep spiritual tentang Islam. Ini merupakan bentuk protes pada paham antropomorfisme berlebihan yang menyebar di kalangan umat Islam. Karena itu, pengikutnya disebut al-Muwahhidun.[7]

Diceritakan pada waktu masih muda ia pernah memperkosa seorang wanita  saudara penguasa Murabitun ‘Ali ibn Yusuf di jalanan Fez karena ia berjalan-jalan tanpa memakai cadar. Pada tahun 1130, Ibn Tumar digantikan sahabat sekaligus jenderalnya, ‘Abd al-Mu’min ibn ‘Ali, anak seorang pembuat tembikar dari suku Zanatah. Dikatakan juga bahwa dinasti Muwahhidun sebagai dinasti terbesar yang pernah dilahirkan di Maroko, dan imperium besar yang tak ada bandingannya dalam sejarah Afrika.[8]

Sesuai dengan ajaran mereka yang mengangap bahwa ajaran merekalah yang sejati dari ajaran Islam yang sebenarnya, maka mereka melakukan peperangan ke seluruh Maroko, dan wilayah-wilayah sekitarnya, di beritakan bahwa pada tahun 1144-1146, ‘Abd al-Mu’min menghancurkan pasukan Murabitun dekat Talimcen, yang berhasil dikuasai beserta Fez, Ceuta, Tangier, dan Agmat; setelahmengepung Maroko selama 11 bulan diperkirakan tahun 1146-1147 ia berhasil mengahiri dinasti Murabitun. Dan  sejak saat itu Maroko berubah menjadi ibu kota dari dinasti Muwahhidun. Pada tahun 1145 ‘Abd al-Mu’min mengirim satu pasukan ke Spanyol yang pada waktu itu keadaan politik maupun sosial masyarakatnya sedang kacau dan antipati terhadap kepemimpinan penguasa pada waktu. Dalam waktu lima tahun pasukan yang dikirimnya berhasil berhasil menaklukan wilayah muslim di semenanjung itu, kecuali kepulauan Belearic yang disisakan di tangan penguasa Murabitun terakhir.

Kemudian ekspansi dilanjutkan pada tahun 1152 ke Aljazair, 1158 ke Tunisia, dan 1160 ke Tripoli. Dan  untuk pertama kalinya dalam sejarah Muslim seluruh pesisir Atlantik   hingga  ke Mesir dihimpun dengan Spanyol sebagai satu imperium independen. ‘Abdul al-Mu’min wafat pada 1163. Dan diteruskan oleh cucunya bernama Abu Yusuf al-Manshur (1184-1199) yang terkenal hebat dan tenar. Seperti  kebanyakan penguasa Berber lain, bahwa ia sendiri berasal dari keturunan budak Kristen.

Shalah al-Din pernah mengirim hadiah melaui duta yang ia kirim yang dipimpin oleh keponakannya Usamah ibn Muqidz, kepadanya yang (Saladin) mengakui khalifah Abbasiyah, dia mengirim 180 kapal laut untuk membantu kaum muslim berperang dalam perang salib. Banyak peninggalan-peninggalan pada masa al-Manshur yaitu monumen-monumen yang diklaim sebagai monumen paling luar biasa di Maroko ataupun Spanyol. Pada tahun 1170 ibu kota Muwahhidun dipindah ke Seville. Naiknya al-Manshur menjadi penguasa dengan ditandai dengan pendirian menara yang sekarang disebut Giralda sebagai pelengkap masjid besar (1172-1195), ia juga membangun Ribath al-Fath dan juga membangun rumah saki.[9]

Para khalifah Muwahhidun  di Spanyol memfokuskan perhatian untuk memenagi perang suci melawan Kristen namun hal itu tak terwujud karena kalah telak dari Kristen yang membuat mereka terusir dari Las Navas de Tolosa pada 1212. Dan dari pertempuran itu dari 600.000 pasukan muslim yang lolos hanya 1000 yang selamat termasuk Al-Nashir yang menyelamatkan diri ke Maroko namun dua tahun setelahnya ia wafat, dengan demikian berakhirlah Dinasti Muwahhidun.

  1. Dinasti Ayyubiyah

Pusat pemerintahan Dinasti Ayyubiyah adalah Kairo, Mesir. Wilayah kekuasaannya meliputi kawasan Mesir, Suriah, dan Yaman. Dinasti Ayyubiyah didirikan Shalahuddin Yusuf Al-Ayubbi, setelah menaklukan khalifah terakhir Dinasti Fathimiyah, Al-Adid. Shalahuddin berhasil menaklukkan daerah islam lainnya dan pasukan salib. Shalahudin adalah tokoh dan pahlawan perang salib. Selain dikenal sebagai panglima perang, shalahuddin juga mendorong kemajuan di bidang agama dan pendidikan. Berakhirnya masa pemerintahan Ayyubiyah ditandai dengan meninggalnya Malik Asyraf Muzaffaruddin, sultan terakhir dan berkuasanya Dinasti Mamluk. Peninggalan Ayyubiyah adalah Benteng Qal’ah Al-Jabal di Kairo, Mesir.[10]

 

baca juga :