SEJARAH TERBENTUKNYA LEMBAGA DPR

SEJARAH TERBENTUKNYA LEMBAGA DPR

SEJARAH TERBENTUKNYA LEMBAGA DPR

SEJARAH TERBENTUKNYA LEMBAGA DPR

Sebenarnya Dewan Perwakilan Rakyat bukanlah sebuah lembaga baru. Bahkan dewan ini telah terbentuk sejak Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Jejak dewan perwakilan ini juga sudah ada pada zaman kolonial Belanda.

1. PERIODE ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA

Pada tanggal 18 Mei 1918 Belanda yang diwakili oleh Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum membentuk dan melantik Volksraad atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Dewan Rakyat. Pada lembaga Volksraad ini juga sudah diatur mengenai kekuasaan legislatif, meskipun bagi rakyat asli Indonesia sangat terbatas.

Pada tahun 1918, anggota Volksraad terdiri dari 1 orang ketua yang dipilih oleh raja dengan anggota berjumlah 38 orang. 20 orang diantaranya berasal dari kalangan penduduk pribumi Indonesia. Pada tahun 1927-1930, keanggotaan kaum bumiputra dalam Volksraad bertambah menjadi 25 orang dari total 55 anggota.

Para pejuang Indonesia yang bergerak melalui jalur politik memanfaatkan Volksraad sebagai sebuah jalan menuju kemerdekaan Indonesia. Tokoh – tokoh yang berjuang mengusulkan kemerdekaan Indonesia melalui Volksraad antara lain adalah Mohammad Husni Thamrin dan Sutardjo.

Melalui Dewan Volksraad inilah para nasionalis Indonesia yang menjadi anggotanya berusaha untuk menanamkan kesadaran kemerdekaan Indonesia. Selain itu, melalui dewan ini pula para tokoh-tokoh nasionalis sering mengkritik kebijakan pemerintah Belanda yang dinilai merugikan bangsa Indonesia. Meskipun pergerakan ini tetap mendapat pengawasan ketat oleh pemerintah Belanda.

Kekalahan Belanda dari Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 ternyata membawa dampak negatif terhadap Volksraad. Belanda yang kalah telak dari Jepang kemudian terpaksa meninggalkan Indonesia dan menyerahkan wilayah jajahannya ke tangan Jepang. Pergantian penjajahan di Indonesia membawa konsekuensi tidak diakuinya lagi keberadaa Volksraad bentukan Belanda.

2. MASA PERJUANGAN KEMERDEKAAN

Saat Jepang berkuasa di Indonesia, hampir tidak ada badan perwakilan kaum pribumi yang diizinkan dibentuk. Bahkan, semua kegiatan politik kaum nasionalis yang sebelumnya diizinkan dengan pengawasan dari pihak Belanda akhirnya dilarang total oleh Jepang.

Para pemimpin nasionalis berusaha menggunakan organisasi gerakan rakyat yang dibentuk oleh Jepang untuk menanamkan cita – cita kemerdekaan Indonesia. Gerakan seperti 3A (Nippon cahaya Asia, pelindung Asia, dan pemimpin Asia) serta Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) digunakan oleh kaum nasionalis untuk mengukuhkan cita – cita kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1943, Jepang membentuk sebuah badan bernama Tjuo Sangi-in yang bertugas untuk menjawab segala pertanyaan Saiko Sikikan (penguasa militer tertinggi Jepang) mengenai usaha-usaha memenangkan perang Asia Timur Raya.

Badan ini sama sekali tidak mewakili aspirasi bangsa Indonesia seperti Volksraad, karena hanya digunakan sebagai biro informasi dan pengumpulan dukungan terhadap pihak Jepang agar bisa berjaya melawan pihak Sekutu dalam Perang Dunia II.

3. MASA DIBENTUKNYA KOMITE NASIONAL INDONESIA PUSAT (KNIP)

Sehari setelah kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI melakukan sidangnya yang pertama. Dalam sidang pertama ini PPKI mengesahkan UUD 1945 dan dasar negara Pancasila.

Berdasarkan ketentuan dalam Aturan Peralihan pada tanggal 29 Agustus 1945 dibentuklah Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang merupakan cikal bakal lembaga legislatif di Indonesia. Oleh karena itulah tanggal 29 Agustus diresmikan sebagai hari jadi DPR-RI.

KNIP dibentuk dengan susunan anggota sebagai berikut:

a. Mr. Kasman Singodimejo sebagai ketua.
b. Mr. Sutardjo Kartohadikusumo sebagai wakil ketua I.
c. Mr. J. Latuharhary sebagai wakil ketua II.
d. Adam Malik sebagai wakil ketua III.


Sumber: https://pengetikan.co.id/geostorm-apk/

LOGIKA AKUNTANSI DASAR DAN CONTOHNYA

LOGIKA AKUNTANSI DASAR DAN CONTOHNYA

LOGIKA AKUNTANSI DASAR DAN CONTOHNYA

LOGIKA AKUNTANSI DASAR DAN CONTOHNYA

Logika dalam akuntansi pasti

berbeda dengan logika yang ada dalam matematika, walaupun dalam mengerjakan akuntansi menggunakan rumus yang ada dalam matematika. Untuk logika akuntansi merupakan persamaan dasar akuntansi yang memiliki hubungan antara elemen aset suatu perusahaan dengan utang serta modal yang dimilikinya.

Hubungan dari elemen tersebut menciptakan keseimbangan antara sisi debet dengan sisi kredit pada suatu jurnal maupun laporan keuangan. Logika tersebut merupakan dasar untuk dapat mengerjakan akuntansi seperti kegiatan mencatat jurnal sampai pada tahap menyajikan laporan keuangan.

Logika akuntansi tersebut seperti :

D = K

Aset + Biaya = Utang + Modal + Pendapatan

Apabila logika akuntansi tersebut dapat anda kuasai dengan baik, maka ketika anda mengerjakan akuntansi menjadi sesuatu yang sangat mudah. Contoh kasus untuk dapat membedakan antara logika matematika dengan logika akuntansi adalah:

Budi akan membeli sebuah buku dengan harga Rp. 50.000,- akan tetapi Budi hanya mempunyai uang Rp. 40.000,- sehingga Budi meminjam Rp. 10.000 pada Wati.
Jika dijabarkan dalam logika matematika dan logika akuntansi maka akan diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Logika matematika, uang Budi 40.000 + pinjam ke wati 10.000 sehingga uang total uang di Budi ada 50.000. Dipakai untuk membeli buku sebanyak 50.000 jadi uang budi sekarang adalah 0. Dengan demikian Budi hanya memiliki buku serta utang kepada Wati, dan Budi sekarang tidak mempunyai uang.

2. Logika akuntansi, total uang budi ada 50.000 dengan perincian 40.000 modal uang Budi, dan 10.000 hasil meminjam dari Wati. Kemudian untuk membeli buku sebesar 50.000. Dalam perhitungan dengan logika akuntansi maka Budi memiliki aset berupa buku dengan harga 50.000, utang pada Wati sebesar 10.000 dan modal sendiri senilai 40.000.-.


Baca Juga :

MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN BERASAL DARI EKSTERNAL

MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN BERASAL DARI EKSTERNAL

MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN BERASAL DARI EKSTERNAL

MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN BERASAL DARI EKSTERNAL

Manajemen risiko eksternal dalam perusahaan bertujuan

untuk meminimalisir kemungkinan penundaan dan kegagalan. Risiko eksternal yang dihindari seperti protes atau keberatan dari masyarakat dan biaya operasional perusahaan lebih besar dari pendapatan. Disamping itu, perlu diberikan perhatian akan keselarasan perusahaan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hal penting lainnya pada eksternal wajib diperhatikan adalah manajemen risiko terhadap pembayaran. Pembayaran yang dimaksud adalah upah terhadap pekerjaan, upah dari kontrak kerjasama. Dengan melakukan pembayaran rutin bulanan terhadap karyawan atau berdasarkan kontrak diharapkan tidak menimbulkan piutang. Sehingga arus kas perusahaan tetap stabil.

Nilai tukar valuta asing juga berpengaruh sebab fluktuasi nilai tukar dapat menimbulkan kerugian. Jika terjadi selisih kurs akan mengakibatkan naik turunnya laba. Pergerakan nilai mata uang yang drastis juga berdampak terhadap kinerja keuangan dan kas perusahaan.

Disamping itu, peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah dan Pusat dapat mempengaruhi manajemen risiko yang dirancang. Sebab, baik secara tidak langsung maupun langsung memiliki kaitan dengan seluruh elemen dan kinerja perusahaan. Biasanya bagian yang terkena dampak peraturan tersebut yakni bidang operasional, sumber daya manusia, dan finansial.

Persaingan perusahaan domestik dengan perusahaan asing berada pada jalur yang sama dapat mengakibatkan pergesekan. Oleh karena itu diperlukan suatu manajemen risiko terhadap persaingan usaha. Sehingga diperoleh kesimpulan mengenai reputasi perusahaan dimata masyarakat dan rekan pebisnis lainnya. Reputasi yang baik dapat mempengaruhi investor, kerjasama, dan pendapatan.

Manajemen risiko juga diperlukan untuk menghadapi perkembangan teknologi. Zaman sekarang teknologi informasi seperti media sosial berpengaruh pada produktivitas dan efisiensi perusahaan. Perusahaan yang berpola pikir kuno dan tidak mengikuti perkembangan teknologi, daya saingnya terbatas. Berbeda denga perusahaan modern yang khatam akan teknologi dapat bergerak lancar.

Hal yang paling penting dalam manajemen risiko dan tidak dapat dihindari adalah faktor bencana alam. Misalnya terjadi banjir, kebakaran, tanah longsor, dan gunung meletus dapat menghambat proses operasional dan transportasi. Dampaknya terhadap finansial adalah menaikkan angka pengeluaran atau menurunkan pendapatan perusahaan.

Manajemen risiko perusahaan juga berkonsentrasi pada lingkungan ekternal. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup sekitar perusahaan jika tergolong perusahaan konvensional. Risiko yang harus diperhatikan dan kemungkinan terjadi yaitu kerusakan dan terganggunya warga sekitar atau lingkungan.

Risiko lingkungan tersebut dapat mengakibatkan tuntutan pemulihan dan perbaikan atas lingkungan yang rusak. Jika perusahaan konvensional yang sedang berjalan menjadi salah satu penyebabnya. Hal tersebut mengakibatkan pengeluaran anggaran tambahan dan menurunkan reputasi perusahaan. Oleh karena itu risiko lingkungan harus ditindaklanjuti dengan suatu manajemen risiko.


Sumber: https://www.friv5flash.org/epic-skater-apk/

JENIS JENIS PESAN DALAM KOMONIKASI BISNIS

JENIS JENIS PESAN DALAM KOMONIKASI BISNIS

JENIS JENIS PESAN DALAM KOMONIKASI BISNIS

JENIS JENIS PESAN DALAM KOMONIKASI BISNIS

Berikut ini ada beberapa contoh pesan bisnis dalam komunikasi bisnis yang akan dibahas secara lengkap dan jelas :

1. SURAT PENAWARAN KERJASAMA

Contoh pesan bisnis dalam komunikasi bisnis yang pertama adalah melalui surat. Surat yang dimaksud disini adalah surat yang mengandung informasi-informasi yang berkaitan dengan kegiatan bisnis, baik penawaran kerjasama bisnis maupun penawaran produk yang dihasilkan.

Salah satu contoh yang paling mudah adalah adanya surat penawaran kerjasama, dimana satu perusahaan menawarkan kerjasama dalam suatu bidang tertentu kepada perusahan lainnya yang dianggap masih dalam kegiataan bisnis yang sama.

2. E-MAIL PENAWARAN PRODUK

Semakin adanya kemajuan teknologi juga lebih memudahkan pesan-pesan bisnis untuk tersampaikan, salah satunya melalui e-mail sebagai salah satu contoh media komunikasi modern. Salah satu contohnya adalah e-mail bisnis mengenai penawaran produk.

Suatu perusahan melalui divisi marketingnya akan banyak menawarkan produk-produk yang dihasilkannya melalui e-mail. Sebagai contoh seperti banyak perusahaan-perusahaan e-commerce yang akan mengirimkan notifikasi mengenai produk-produk barunya melalui e-mail pada para pelanggannya.

3. LAPORAN PERUSAHAAN

Tidak hanya yang berkaitan dengan penawaran kerjasama maupun penawaran produk saja, tetapi laporan-laporan perusahaan, memo perusahaan, dan lain sebagainya yang masih didalam lingkup kegiatan bisnis yang berjalan juga termasuk sebagai pesan bisnis.

Mengapa demikian? Karena didalamnya masih mengandung informasi-informasi mengenai kegiatan bisnis yang berlangsung dalam suatu perusahaan atau organisasi. Oleh sebab itu, laporan perusahaan juga menjadi contoh pesan bisnis yang ada dalam komunikasi bisnis.

4. PERTEMUAN ATAU PIDATO

Pernahkah anda datang pada grand launching produk komunikasi seperti handphone? Kegiataan ini banyak dilakukan oleh perusahaan apple atau samsung yang ingin melunjurkan produk terbaru mereka.

Melalui pertemuan yang dilakukan tersebut, didalamnya juga sebenarnya terdapat pesan bisnis yang disampaikan dimana juga bertujuan untuk mempengaruhi audience untuk membeli produk terbaru mereka. Pidato yang disampaikan mengenai kualifikasi atau informasi-informasi mengenai produk-produk terbaru mereka yang akan diluncurkan juga merupakan suatu pesan bisnis melalui media komunikasi lisan.

5. TELIMARKETING

Tidak hanya melalui suatu pertemuan atau pidato saja, media komunikasi lisan juga banyak digunakan untuk penyampaian pesan bisnis seperti melalui telemarketing.Jadi suatu perusahaan biasanya akan memiliki divisi telemarekting sendiri yang bertujuan untuk menawarkan produk kepada konsumen maupun mengajukan kerjasama dengan perusahaan lain yang dilakukan melalui telfon.


Sumber: https://shellymartinez.org/busybox-pro-apk/

 DEFINISI DAN CIRI-CIRI KARAKTERISTIK

 DEFINISI DAN CIRI-CIRI KARAKTERISTIK

Menurut aliran human behavior, bunuh diri adalah bentuk pelarian diri yang paling parah dari dunia nyata, atau lari dari situasi yang tidak bisa ditolerir, atau merupakan bentuk  regressi ingin kembali pada keadaan nikmat nyaman, tentram.

Definisi : bunuh diri ialah perbutuan manusia yang disadari yang bertujuan untuk menyakiti diri sendiri dan menghentikan kehidupan sendiri.

Dalam kalimat ini ada 5 hal yang penting, yaitu :

1)      Merupakan perbuatan manusia

2)      Ada keinginan yang disadari untuk mati

3)      Memiliki motivasi-motivasi tertentu

4)      Bertujuan menggapai kematian

5)      Ada introspeksi penuh kesadaran mengenai satu konsep tentang kematian atau penghentian kehidupan.

Beberapa definisi lainnya, antara lain :

o   Bunuh diri adalah satu jalan untuk mengatasi macam-macam kesulitan pribadi, misalnya berupa rasa kesepian, dendam, takut, kesakitan, fisik, dosa, dan lain-lain.

o   Bunuh diri adalah keinginan yang mendorong suatu perbuatan untuk melakukan destruksi/pengrusakan diri sendiri.

o   Bunuh diri ialah derajat efektiviitas satu perbuatan yang disengaja dan bertujuan untuk mengakibatkan kematian.

Perbuatan bunuh diri dapat digolongkan dalam 2 tipe, yaitu yang konvensional dan yang personal.

Bunuh diri konvensional adalah produk dari tradisi dan paksaan dari opini umum untuk mengikuti criteria kepantasan, kepastian social, dan tuntutan social. Bunuh diri tipe ini merupakan bagian dari tradisi dan gaya hidup suatu suku atau bangsa. Perbuatan bunuh  diri tipe ini sudah banyak dihapus, sebagian disebabkan oleh pengaruh-pengaruh bangsa lain, atau oleh tekanan dan paksaan bangsa lain, dan sebagian lagi disebabkan oleh banyaknya perubahan pada kondisi-kondisi social.

Sebaliknya bunuh diri personal, khas banyak terjadi pada masa modern, karena orang merasa lebih bebas dan tidak mau tunduk pada aturan. Orang tidak ingin terlalu terikat oleh kebiasaan-kebiasaan yang ada untuk memecahkan kesulitan hidupnya. Sebaliknya mereka mencari jalan  singkat dengan caranya sendiri, yaitu bunuh diri, utnuk mengatasi kesulitan hidupnya, atas keputusan sendiri. Karena itu peristiwa bunuh diri adalah bentuk kegagalan seseorang dalam upayanya menyesuaikan diri tehadap tekanan-tekanan social dan tuntutan-tuntutan hidup.

Factor yang mempengaruhi atau turut mempengaruhi kemauan bunuh diri adalah bermacam-macam sehingga memaksa pribadi perorangan atau sekumpulan orang untuk melakukan  perbuatan bunuh diri, antara lain : religi, jenis kelamin, pendidikan, profesi, doktrin, usia, dan lain-lain. Laki-laki lebih banyak melakukan tindakan bunuh diri daripada kaum wanita. Hal ini disebabkan karena kaum laki-laki memiliki banyak keberanian, keteguhan kemauan, dan kekuatan fisik yang lebih besar untuk menyakiti dan merusak diri sendiri sampai pada kematiannya.

Factor-faktor yang lain yang memberikan kontribusi pada tindakan bunuh diri antara lain ialah factor sosiologis, berupa disintegrasi dan disorganisasi social yang mengakibatkan disintegrasi-disorganisasi pribadi/personal, masa-masa krisis, peristiwa erosi dari norma-norma dan nilai-nilai. Factor ekonomi, antara lain berupa status ekonomi, depresi ekonomi, jatuh miskin secara mendadak, dan lain-lain. Factor politik, misalnya berupa perubahan-perubahan iklim politik dengan macam-macam tekanannya, perubahan peranan dalam dunia politik, dan lain-lain. Factor pendidikan, misalnya kegagalan studi.

sumber :

https://www.aboelwen.com/lost-artifacts-apk/

Nilai-Nilai Dasar Hukum

Nilai-Nilai Dasar Hukum

Berdasarkan anggapan tersebut di atas maka hukum tidak dapat kita tekankan pada suatu nilai tertentu saja, tetapi harus berisikan berbagai nilai, misalnya kita tidak dapat menilai sahnya suatu hukum dari sudut peraturannya atau kepastian hukumnya, tetapi juga harus memperhatikan nilai-nilai yang lain.

Radbruch mengatakan bahwa hukum itu harus memenuhi berbagai karya disebut sebagai nilai dasar dari hukum. Nilai dasar hukum tersebut adalah: keadilan, kegunaan dan kepastian hukum. Sekalipun ketiga-tiganya itu merupakan nilai dasar dari hukum, namun di antara mereka terdapat suatu Spannungsverhaltnis (ketegangan), oleh karena di antara ketiga nilai dasar hukum tersebut masing-masing mempunyai tuntutan yang berbeda satu sama lainnya, sehingga ketiganya mempunyai potensi untuk saling bertentangan

Seandainya kita lebih cenderung berpegang pada nilai kepastian hukum atau dari sudut peraturannya, maka sebagai nilai ia segera menggeser nilai-nilai keadilan dan kegunaan. Karena yang penting pada nilai kepastian itu adalah peraturan itu sendiri. Tentang apakah peraturan itu telah memenuhi rasa keadilan dan berguna bagi masyarakat adalah di luar pengutamaan nilai kepastian hukum. Begitu juga jika kita lebih cenderung berpegang kepada nilai kegunaan saja, maka sebagai nilai ia akan menggeser nilai kepastian hukum maupun nilai keadilan, karena yang penting bagi nilai kegunaan adalah kenyataan apakah hukum tersebut bermanfaat atau berguna bagi masyarakat. Demikian juga halnya jika kita hanya berpegang pada nilai keadilan saja, maka sebagai nilai ia akan menggeser nilai kepastian dan kegunaan, karena nilai keadilan tersebut tidak terikat kepada kepastian hukum ataupun nilai kegunaan, disebabkan oleh karena sesuatu yang dirasakan adil belum tentu sesuai dengan nilai kegunaan dan kepastian hukum. Dengan demikian kita harus dapat membuat kesebandingan di antara ketiga nilai itu atau dapat mengusahakan adanya kompromi secara proporsional serasi, seimbang dan selaras antara ketiga nilai tersebut.

Dalam menyesuaikan peraturan hukum dengan peristiwa konkrit atau kenyataan yang berlaku dalam masyarakat (Werkelijkheid), bukanlah merupakan hal yang mudah, karena hal ini melibatkan ketiga nilai dari hukum itu. Oleh karena itu dalam praktek tidak selalu mudah untuk mengusahakan kesebandingan antara ketiga nilai tersebut. Keadaan yang demikian ini akan memberikan pengaruh tersendiri terhadap efektivitas bekerjanya peraturan hukum dalam masyarakat. Misalnya; seorang pemilik rumah menggugat penyewa rumah ke pengadilan, karena waktu perjanjian sewa-menyewa telah lewat atau telah berakhir sesuai dengan waktu yang diperjanjikan. Tetapi penyewa belum dapat mengosongkan rumah tersebut karena alasan belum mendapatkan rumah sewa yang lain sebagai tempat penampungannya. Ditinjau dari sudut kepastian hukum, penyewa harus mengosongkan rumah tersebut karena waktu perjanjian sewa telah lewat sebagaimana yang telah diperjanjikan.

Apakah hal ini, dirasakan adil kalau si penyewa pada saat itu belum ada rumah lain untuk menampungnya? Dalam hal ini, hakim dapat memutuskan: memberi kelonggaran misalnya selama waktu enam bulan kepada penyewa untuk mengosongkan rumah tersebut. Ini merupakan kompromi atau kesebandingan antara nilai kepastian hukum dengan nilai keadilan, begitu juga nilai manfaat atau kegunaan terasa juga bagi si penyewa yang harus mengosongkan rumah tersebut.

Adalah lazim bahwa kita melihat efektifitas bekerjanya hukum itu dari sudut peraturan hukumnya, sehingga ukuran-ukuran untuk menilai tingkah dan hubungan hukum antara para pihak yang mengadakan perjanjian itu, didasarkan kepada peraturan hukumnya. Tetapi sebagaimana dicontohkan di atas, jika nilai kepastian hukum itu terlalu dipertahankan, maka ia akan menggeser nilai keadilan.

Sebagaimana diketahui undang-undang itu, tidak selamanya sempurna dan tidak mungkin undang-undang itu dapat mengatur segala kebutuhan hukum dalam masyarakat secara tuntas. Adakalanya undang-undang itu tidak lengkap dan adakalanya undang-undang itu tidak ada ataupun  tidak sempurna. Keadaan ini tentunya menyulitkan bagi hakim untuk mengadili perkara yang dihadapinya. Namun, dalam menjalankan fungsinya untuk menegakkan keadilan, maka hakim tentunya tidak dapat membiarkan perkara tersebut terbengkalai atau tidak diselesaikan sama sekali.

  1. Penegakkan Hukum dan Rasa Keadilan

Konflik antar lembaga penegak hukum mencapai klimaksnya dan menyeret perhatian bahkan keterlibatan banyak pihak sampai ke tingkat kresesidenan. Hal ini justeru terjadi saat kita bertekad untuk menuntaskan kasus-kasus korupsi yang dianggap sebagai kejahatan yang harus diberantas dengan serius. Tekad pemberantasan korupsi sendiri telah menjadi salah satu agenda reformasi yang dirumuskan dalam pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Lembaga kepolisian dan KPK terkesan adu kuat dalam hal ini. Sebagaimana kita tangkap dalam perumpamaan cicak melawan buaya sepertiu yang disebutkan oleh pejabat tinggi di Mabes Polri sendiri.

sumber :

https://avenuedjazz.com/vikings-apk/

 Hukum Sebagai Suatu Sistem

 Hukum Sebagai Suatu Sistem

Sistem hukum tidak hanya mengacu pada aturan (codes of rules) dan peraturan (regulations), namun mencakup bidang yang luas, meliputi struktur, lembaga dan proses (procedure) yang mengisinya serta terkait dengan hukum yang hidup dalam masyarakat (living law) dan budaya hukum (legal structure).

Menurut Lawrence Friedman, unsur-unsur sistem hukum itu terdiri dari struktur hukum (legal structure), substansi hukum (legal substance) dan budaya hukum (legal culture).

Struktur hukum meliputi badan eksekutif, legislatif dan yudikatif serta lembaga-lembaga terkait, seperti Kejaksaan, Kepolisian, Pengadilan, Komisi Judisial, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lain-lain. Sedangkan substansi hukum adalah mengenai norma, peraturan maupun undang-undang.

Budaya hukum adalah meliputi pandangan, kebiasaan maupun perilaku dari masyarakat mengenai pemikiran nilai-nilai dan pengharapan dari sistim hukum yang berlaku, dengan perkataan lain, budaya hukum itu adalah iklim dari pemikiran sosial tentang bagaimana hukum itu diaplikasikan, dilanggar atau dilaksanakan.

Tanpa budaya hukum sistem hukum itu sendiri tidak akan berdaya, seperti ikan mati yang terkapar di keranjang, bukan seperti ikan hidup yang berenang di lautnya (without legal culture, the legal system is inert, a dead fish lying in a basket, not a living fish swimming in its sea). Setiap masyarakat, negara dan komunitas mempunyai budaya hukum. Selalu ada sikap dan pendapat mengenai hukum. Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang dalam satu komunitas memberikan pemikiran yang sama.

Hukum adalah kontrol sosial dari pemerintah (law is governmental social control), sebagai aturan dan proses sosial yang mencoba mendorong perilaku, baik yang berguna atau mencegah perilaku yang buruk. Di sisi lain kontrol sosial adalah jaringan atau aturan dan proses yang menyeluruh yang membawa akibat hukum terhadap perilaku tertentu, misalnya aturan umum perbuatan melawan hukum. Tidak ada cara lain untuk memahami sistem hukum selain melihat perilaku hukum yang dipengaruhi oleh aturan keputusan pemerintah atau undang-undang yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang. Jika seseorang berperilaku secara khusus adalah karena diperintahkan hukum atau karena tindakan pemerintah atau pejabat lainnya atau dalam sistem hukum.

Tetapi kita juga membutuhkan kontrol sosial terhadap pemerintah, karena tidak dapat kita pungkiri, bahwa tiada kuda tanpa kekang. Begitu juga tiada penguasa dan aparaturnya yang bebas dari kontrol sosial. Semua tahu ada orang yang berwenang menyalahgunakan jabatannya, praktek suap dan KKN sering terjadi dalam tirani birokrat. Maka untuk memperbaiki harus ada kontrol yang dibangun dalam sistim. Dengan kata lain, hukum mempunyai tugas jauh mengawasi penguasa itu sendiri, kontrol yang dilakukan terhadap pengontrol. Pemikiran ini berada di balik pengawasan dan keseimbangan (check and balance) dan di balik Peradilan Tata Usaha Negara, Inspektur Jenderal, Auditur dan lembaga-lembaga seperti, KPK, Komisi Judisial. Kesemuanya ini harus mempunyai komitmen yang tinggi untuk memberantas segala bentuk penyalahgunaan wewenang dari pihak penguasa.

Hukum akan menjadi berarti apabila perilaku manusia dipengaruhi oleh hukum dan apabila masyarakat menggunakan hukum menuruti perilakunya, sedangkan di lain pihak efektivitas hukum berkaitan erat dengan masalah kepatuhan hukum sebagai norma. Hal ini berbeda dengan kebijakan dasar yang relatif netral dan bergantung pada nilai universal dari tujuan dan alasan pembentukan undang-undang.

Kepastian hukum dapat kita lihat dari dua sudut, yaitu kepastian dalam hukum itu sendiri dan kepastian karena hukum. “Kepastian dalam hukum” dimaksudkan bahwa setiap norma hukum itu harus dapat dirumuskan dengan kalimat-kalimat di dalamnya tidak mengandung penafsiran yang berbeda-beda. Akibatnya akan membawa perilaku patuh atau tidak patuh terhadap hukum. Dalam praktek banyak timbul peristiwa-peristiwa hukum, di mana ketika dihadapkan dengan substansi norma hukum yang mengaturnya, kadangkala tidak jelas atau kurang sempurna sehingga timbul penafsiran yang berbeda-beda yang akibatnya akan membawa kepada ketidakpastian hukum.

Sedangkan “kepastian karena hukum” dimaksudkan, bahwa karena hukum itu sendirilah adanya kepastian, misalnya hukum menentukan adanya lembaga daluarsa, dengan lewat waktu seseorang akan mendapatkan hak atau kehilangan hak. Berarti hukum dapat menjamin adanya kepastian bagi seseorang dengan lembaga daluarsa akan mendapatkan sesuatu hak tertentu atau akan kehilangan sesuatu hak tertentu.

Hukum tidak identik dengan undang-undang, jika hukum diidentikkan dengan perundang-undangan, maka salah satu akibatnya dapat dirasakan, adalah kalau ada bidang kehidupan yang belum diatur dalam perundang-undangan, maka dikatakan hukum tertinggal oleh perkembangan masyarakat. Demikian juga kepastian hukum tidak identik dengan dengan kepastian undang-undang. Apabila kepastian hukum diidentikkan dengan kepastian undang-undang, maka dalam proses penegakan hukum dilakukan tanpa memperhatikan kenyataan hukum (Werkelijkheid) yang berlaku.

Para penegak hukum yang hanya bertitik tolak dari substansi norma hukum formil yang ada dalam undang-undang (law in book’s), akan cenderung mencederai rasa keadilan masyarakat. Seyogyanya penekanannya di sini, harus juga bertitik tolak pada hukum yang hidup (living law). Lebih jauh para penegak hukum harus memperhatikan budaya hukum (legal culture), untuk memahami sikap, kepercayaan, nilai dan harapan serta pemikiran masyarakat terhadap hukum dalam sistim hukum yang berlaku.

  1. Penegakan Hukum

Penegakan hukum pada prinsipnya harus dapat memberi manfaat atau berdaya guna (utility) bagi masyarakat, namun di samping itu masyarakat juga mengharapkan adanya penegakan hukum untuk mencapai suatu keadilan. Kendatipun demikian tidak dapat kita pungkiri, bahwa apa yang dianggap berguna (secara sosiologis) belum tentu adil, begitu juga sebaliknya apa yang dirasakan adil (secara filosopis), belum tentu berguna bagi masyarakat.

sumber :

https://www.aboelwen.com/lost-artifacts-apk/

Pendidikan islam di masa Muawiyyah,Abbasiyahdan kekholifahan selanjutnya (661-1250 M)

Pendidikan islam di masa Muawiyyah,Abbasiyahdan kekholifahan selanjutnya (661-1250 M)

Dengan berakhirnya masa Khulafaur Rosyidin mulailah kekuasaan bani Umayyah. Adapun kemajuan peendidikan dan peradaban Abasiyyah mencapai kemajuan terutama pada kholifah Al-Mahdi (775-785 M) dan puncak kejayaan terutama pada masa kholifah Al-Mahdi dan puncak popularitasnya baru setelah pemerintah Harun Al-Rosyid (785-809 M) dan di teruskan putranya Al-Makmun(813-833 M).

Pada masa Muawiyyah ini (dinasti bani umayyah) Abdul Malik merubah administrasi dan bahasa yunani dan bahasa pahlawan ke bahasa arab. Pada masa tahun 659 M beliau juga merubah mata uang bizaintum dan Persia seperti dinar dan dirham dengan memakai kata-kata dan tulisan arab dinar dibuat daru emas dan dirham dari perak dan di zaman inilah di mulai adanya ilmu tafsir, Hadist, Feqih, dan ilmu kalam, Yang menjadi pusat dari kegiatan-kegiatan ilmiah ini adalah kuffah dan basroh di Iraq.

Diantara monument terbaik yang di tinggalkan zaman ini untuk generasi-generasi selanjutnya adalah kbah Al-Sakhr (dome of the rock)juga di al quds,Masjid cardova juga di zaman inilah di bangun dan pada tahun 750 M kekuasaan mereka menurun sehingga akhirnya di patahkan oleh bani abbas.

Dimasa bani Abbas inilah ilmu pengetahuan dan filsafat yunani memuncak terutama di zaman Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun. buku tersebut didatangkan dari Bizantium, yang kemudian di terjemahkan ke dalam bahasa Arab, kegiatan ini berlangsung kira-kira satu abad. Adapun Bait Al-Hikmah adalah merupakan tempat pusat penterjemah dan juga akademi yang mempunyai perpustakaan yang didirikan oleh Al-Ma’mun.

Dimasa ini pulalah buat pertama kalinya dalam sejarah terjadi kontak antara islam dengan kebudayaan barat/ yunani klasik yang terdapat di mesir, Syiria, Mesopotamia dan Persia. Sebagaimana yang di tekungkan dalam ayat-ayat al-qur’an yang dimana menganjurkan umat islam supaya menghargai kekuatan akal yang dianugrahkan allah pada manusia. Dan dari nabi Muhammad SAW supaya umat islam senantiasa mencari ilmu pengetahuan, Maka kontak dengan kebudayaan barat itu membawa asa yang gilang-gemilang bagi islam.

Adapun perguruan tinggi yang di dirikan di zaman ini di antaranya adalah Al-Hikmah di Baghdad dan Al-Azhar Kairo, yang hingga kini masi harum namanya sebagai Universitas Islam yang tertinggi di seluruh dunia.

Al-Ma’mun adalah Kholifah yang banyak jasanya dalam penerjemahan. Ilmuan muslim ini membaca karya yunani sebagai motivasi untuk menggunakan logika dalam membahas ajaran islam dan mengembangkan serta menemukan berbagai macam ilmu pengetahuan yang baru. Untuk dialektika (cara berfikir yang sesuai dengan kenyataan) dari Socrates, idealism ploto dan logika Aristoteles tersebut termasuk berpengaruh terhadap beberapa aliran dalam islam seperti Qodariyah, As-Sya’riyah, Mu’tazillah.

Melalui orang-orang kreatif seperti Al-Kindy, Al-Rozy, Al-Faraby, Ibnu Sina, AL-Ghozali, Ibnu Khaldun, Ibnu Thufair, Dll. Pengetahuan islam telah melakukan investigasi dalam ilmu kedokteran, teknologi, matematika, geografi dan bahkan sejarah.

  1. Pendidikan Islam Dalam Periode Pertengahan (1250-1800 M)

Islam pada priode pertengahan dapat di bagi menjadi dua, yaitu :

  1. Zaman kemunduran.

Zaman ini berlangsung sekitan 250 tahun. Kemuduran ini di awali dengan hancurnya Baghdad oleh Hulaqohan. Dia membunuh semua keluarga kholifah, tetapi untunglah salah seorang anak kholifah abbasiyah bisa melarikan diri ke masir, lalu dia diangkat oleh sultan Mamluk menjadi kholifah yang berkedudukan di kota Kairo.

Dengan demikian ibu kota alam islam berpindh ke Kairo, Mesir, begitu juga pusat pendidikan pengajaran ke kairo, ke Al-Jami’ Al-Azhar, system pengajaran saat itu ialah dengan menghafal matan-matan seperti matan Alfiyah, Matan Taqrib dan lain-lain, kemudian barulah mereka menghafal syarahnya.

  1. Zaman tiga kerajaan besar

Tiga kerajaan besar yang dimaksudkan adalah kerajaan Usmani di Turki (1290-1924 M), kerajaan safawi di Persia (1501-1736 M), dan kerajaan Maghon di india (1526-1858).

Pada masa kejaan Usmani pendidikan mengalami kemunduran. Kali ini di karenakan banyak ulama’ dan guru-guru yang hanya mempelajari kaidah-kaidah ilmu agama dan bahasa arab, serta sedikit mempelajari ilmu berhitung dan ilmu miqat. Mereka tidak terpengaruh oleh pergerakan ilmiah di eropa. Demikianlah keadaan pendidikan pada masa kerajaan Usman sampai jatuhnya sultan yang terakhir.

bca juga :

Pendidikan islam dalam priode klasik (650-1250 M)

Pendidikan islam dalam priode klasik (650-1250 M)

  1. Pendidikan islam dimasa Nabi Muahammad SAW (571-632 M)

Sejak nabi Muhammad SAW di angkat menjadi rosul sebagai tanda datangnya islam sampai sekarang telah berjalan selitar 14 abad lamanya.

Pendidikan islam pada masa nabi Muhammad SAW merupakan prototip (Sifat atau model pertama) yang terus menerus di kembangkan ummat islam untuk kepentingan pendidikan pada zamannya. Nabi Muhammad SAW melakukan pendidikan islam setelah mendapatkan perintah (wahyu) dari Allah SWT sebagaimna termaktub di surat Al-Muddastir ayat 1-7, menyeru yang berarti mengajak, Dan mengajak berartu mendidik, Dan dari wahyu yang mula-mula tueun iutu dapat di ambil kesimpulan, Bahwa pendidikan dalam islam dapat di bagi menjadi empat macam :

  1. Pendidikan keagamaan.
  2. Pendidikan aqliyah dan ilmiyyah.
  3. Pendidikan akhlak dan budi pekerti.
  4. Pendidikan jasmani.

Pada masa ini pendidikan islam di artikan pembudayaan ajaran islam yaitu memasukkan ajaran-ajaran islam dan menjadikan sebagai unsure budaya bangsa arab dan menyatu kedalamnya, dengan pembudayaan ajaran islam kedalam sistem dan lingkungan budaya bangsa arab tersebut, Maka terbentuklah system budaya islam dalam lingkungan budaya bangsa arab.

  1. Pendidikan Islam Di Masa Khulafaur Risyidin (632-661 M)

Setelah Rosulullah wafat, peradaban islam memberi contoh bagaimana cara mengendalikan Negara dengan bijaksana dalam politik yang mengandung hikmah Berfikir, Berhak, Berprilaku yang berbau kelincahan dan kelicikan.

Setelah Rosulullah wafat pemerintahan islam di pegang secara bergantian oleh abu bakar, Ummar Bin khotob, Utsman bin Affan, Ali Bin Abi Tholib, Pada masa Abu Bakar, Padaal pemerintahan di guncang oleh para pemberontak dari orang murtad, Orang-orang yang mengaku Nabi. Dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat, oleh sebab itu Abu Bakar memusatkan perhatian untuk memerangi pemberontakan-pemberontakan tersebut yang mana dapat mempengaruhi orang-orang islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari islam.

Pada masa kholifah Ummar Bin Khottob, situasi politik dalam keadaan stabil dan untuk pendidikan, Ummar mengangkat guru-guru untuk brtugas memajukan isi Al-Qur’an dan ajran islam kepada penduduk yang baru masuk islam, Ummar juga memerintahkan panglima untuk membangun masjid–masjid sebagai tempat ibadah sekaligus sebagai tempat belajar.

Pada masa ini sudah terdapat pengajaran bhs arab dengan itu orang-orang yang baru masuk islam dari daerah atau wilayah yang lainya harus belajar Bahasa Arab, Jika mereka ingin belajar dan mendalami pelajaran islam.

sumber

https://sanghachiro.com/cinderella-apk/

Metode Sejarah Pendidikan Islam

Metode Sejarah Pendidikan Islam

Memahami sejarah adalah hal yang cukup rumit, setidaknya ada dua fase untuk sampai pada hal tersebut. pertama adalah fase penggalian sejarah, dan kedua adalah fase penulisan sejarah. Adapun metode yang dapat ditempuh untuk fase yang pertama adalah :

  1. Metode Lisan dengan metode ini pelacakan suatu obyek sejarah dengan menggunakan interview.
  2. Metode Observasi dalam hal ini obyek sejarah diamati secara langsung
  3. Metode Documenter dimana dengan metode ini berusaha mempelajari secara cermat dan mendalam segala catatan atau dokumen tertulis [7].

Mengenai metode sejarah pendidikan Islam, walaupun terdapat hal-hal yang sifatnya khusus, berlaku kaidah-kaidah yang ada dalam penulisan sejarah.Kebiasaan dari penelitian dan penulisan sejarah meliputi suatu perpaduan khusus keterampilan intelektual. Sejarahwan harus menguasai alat-alat analisis untuk menilai kebenaran materi-materi sebenarnya, dan perpaduan untuk mengumpulkan dan menafsirkan materi-materi tersebut kedalam kisah yang penuh makna, sebagai seorang ahli, sejarahwan harus mempunyai sesuatu kerangka berpikir kritis baik dalam mengkaji materi maupun dalam menggunakan sumber-sumbernya.

Adapun fase yang kedua yaitu metode penulisan untuk memahami Sejarah Pendidikan Islam diperlukan suatu pendekatan atau metode yang bisa ditempuh adalah keterpaduan antara metode deskriptif, metode komparatif dan metode analisis sintesis.

  1. Metode Deskriptif

Dengan cara deskriptif dimaksudkan bahwa ajaran-ajaran Islam sebagai agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW dalam Al-Quran dan Hadits, trutama yang berhubungan dengan pendidikan harus diuraikan sebagaimana adanya, dengan maksud untuk memahami makna yang terkandung dalam ajaran Islam.

  1. Metode Komparatif

Melalui metode ini dimaksudkan bahwa ajaran-ajaran Islam itu dikomparasikan dengan fakta-fakta yang terjadi dan berkembang dalam kurun waktu serta tempat-tempat tertentu untuk mengetahui adanya persamaan dan perbedaan dalam suatu permasalahan tertentu

  1. Metode Analisis-sintesis

Metode analisis berarti secara kritis membahas, meneliti istilah-istilah, pengertian-pengertian yang diberikan oleh Islam sehingga diketahui adanya kelebihan dan kekhasan pendidikan Islam. Dan sintesis berarti.untuk memperoleh kesimpulan yang diambil guna memperoleh satu keutuhan dan kelengkapan kerangka pencapaian tujuan serta manfaat sejarah pendidikan Islam.

  1. Periodesasi Sejarah Pendidikan Islam

Menurut Harun Nasution, sejarah pendidikan Islam itu terbagi menjadi tiga periode yaitu periode klasik, pertengahan dan modern. Kemudian dapat dirinci lagi menjadi lima masa, yaitu:

  1. Masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632).
  2. Masa khalifah yang empat (Khulafaur Rosyidin: Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali di Madinah pada 632-661).
  3. Masa kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750).
  4. Masa kekuasaan Abbasiyah di Bagdad (750-1250).
  5. Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Bagdad tahun 1250 M samapai sekarang.

 

sumber :

https://restaurantlediapason.com/popscene-apk/