Jenis Kelembagaan Dana Pensiun

 Jenis Kelembagaan Dana Pensiun

 Jenis Kelembagaan Dana Pensiun

           Jenis kelembagaan dana pensiun menurut Pasal 2 Undang-undang Nomor 11 Tahun 1992 Bab II, dapat dibatasi dalam dua jenis, yaitu :

  1. Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK)

Lembaga ini dibentuk oleh orang atau badan yang memperkerjakan karyawan, selaku pendiri dan untuk menyelenggarakan program pensiun manfaat pasti atau program pensiun iuran pasti, bagi kepentingan sebagian atau seluruh karyawan sebagai peserta, dan yang menimbulkan kewajiban terhadap pemberi kerja. (Lihat Pasal 1 Butir 2 Undang-undang Nomor 11 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 1992). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur Dana Pensiun Pemberi Kerja:

  1. PP Nomor 76 Tahun 1992 tentang Peraturan Dana Pensiun Pemberi Kerja

Peraturan ini mencakup ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

1)        Nama dan pensiun yang bersangkutan.\

2)        Nama pendiri.

3)        Karyawan yang berhak menjadi peserta dan persyaratan untuk menjadi peserta.

4)        Nama mitra pendiri.

5)        Tanggal pembentuk dana pensiun.

6)        Pembentukan kekayaan dana pensiun yang terpisah dari kekayaan pemberi kerja.

 

Pos-pos Terbaru

Pensiun ditunda (deferred retirement)

Pensiun ditunda (deferred retirement)

Pensiun ditunda (deferred retirement)

Ketentuan ini memperkenankan karyawannya yang secara mental dan fisik masih sehat untuk tetap bekerja melampaui usia pensiun normal, dengan ketentuan pembayaran pensiun dimulai pada tanggal pensiun normal meskipun yang bersangkutan tetap meneruskan bekerja dan memperoleh gaji dari perusahaan bersangkutan. Sebenarnya ketentuan ini tidak sesuai dengan konsep dasar dari manfaat pensiun (manfaat pensiun sebagai pengganti pendapatan karyawan). Dalam hal ini karyawan tersebut mendapatkan pendapatan dari dua sumber.

  1. Pensiun cacat

Apabila karyawan mengalami cacat dan dianggap tidak lagi cakap atau mampu melaksanakan pekerjaannya, berhak memperoleh manfaat pensiun. Biasanya manfaat pensiun dihitung berdasarkan formula manfaat pensiun normal dengan masa kerjanya diakui seolah-olah sampai usia pensiun normal dan penghasilan dasar pensiun ditentukan pada saat yang bersangkutan dinyatakan cacat.

Sumber :

https://bobhenneman.info/

Peserta dan Usia Pensiun

Peserta dan Usia Pensiun

Peserta dan Usia PensiunPeserta dan Usia Pensiun

  1. Peserta

Peserta adalah setiap orang yang memenuhi persyarata peraturan dana pensiun. Pasal 19 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 menyatakan bahwa setiap karyawan yang termasuk golongan karyawan yang memenuhi syarat kepesertaan dalam dana pensiun yang didirikan oleh pemberi kerja, berhak menjadi peserta, apabila telah berusia setidak-tidaknya 18 tahun atau telah kawin dan telah memiliki masa kerja sekurang-kurangnya 1 tahun pada pendiri atau mitra pendiri.

  1. Usia Pensiun

Usia pensiun adalah usia ketika peserta berhak mengajukan pensiun dan mendapatkan manfaat pensiun. Usia pensiun dapat dibedakan dalam empat kategori:

  1. Pensiun Normal (normal retirement)

Adalah usia paling rendah saat karyawan berhak untuk pensiun tanpa perlu persetujuan dari pemberi kerja dengan memperoleh manfaat pensiun penuh. Usia pensiun normal ditetukan dalam Peraturan Dana Pensiun. Dalam usia pensiun normal, peserta pensiun berhak atas jumlah pensiun penuh.

  1. Pensiun Dipercepat (early retirement)

Adalah ketentuan pensiun yang megizinkan peserta pensiun untuk mempercepat pensiun karena suatu hal. Ketentuan ini diataur dalam peraturan dana pensiun bawha karyawan dimungkinkan untuk pensiun lebih awal dari usia pensiun normal dengan persyaratan khusus. Persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh peserta antara lain mendapatkan persetujuan dari pemberi kerja, dan ada halangan yang bersifat tetap setiap karyawan mengalami cacat tetap. Besarnya manfaat pensiun yang dapat diperolah ditentukan berdasarkan perhitungan ekuivalen akturial (actuarial equivalent).

Sumber :

https://ijateng.id/

contoh kebijakan fiskal

Pengertian umum Kebijakan Fiskal, Tujuan serta Macam-Macamnya

Kebijakan fiskal biasa disebut dengan politik fiskal, secara umum pengertian kebijakan fiskal (fiskal policy) adalah implementasi dari bentuk operasional kebijakan anggaran yang dilakukan pemerintah dalam mengatur keuangan negara. Arah kebijakan ditekankan pengalokasian pengeluaran negara dan penerimaan negara terkhusus pada perpajakan, contohnya saja tinggi rendahnya pajak, atau bahkan pembebasan pajak dalam pengendalian perekonomian untuk mencapai tujuan nasional. Dalam menjalankan kebijakan sangat efektif apalagi dibarengi dengan kebijakan moneter.

Teori Kebijakan Fiskal

1. Teori Pembiayaan Fungsional
Teori ini dikemukakan oleh AP Lerner. Meurutnya anggaran itu berupa pembiayaan yang dilakukan pemerintah dan tidak berpengaruh langsung terhadap pendapatan nasional serta bertujuan pada perluasan kesempatan kerja. Dalam teori ini pajak tidak perlu ditarik saat tingkat pengangguran tinggi karena dapat mengurangi peluang terciptanya lepangan kerja baru. Adapun inflasi akan diatasi dengan pinjaman pemerintah.

2. Teori Pengelolaan Anggaran
Dalam teori pengelolaan anggaran, disebutkan bahwa penerimaan dari pajak atau pinjaman serta pengeluaran negara merupakan suatu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka mewujudkan perekonomian yang mantap dan stabil. Menurut Alvin Hasen yang mengemukakan teori ini, saat deflasi dimana harga-harga menjadi murah karena orang tidak memiliki daya beli. Hal ini menyebabkan perekonomian menjadi lesu.

Pada saat deflasi negara sebiknya menggunakan kebijakan anggaran defisit. Pemerintah meminjam dana kepada pihak asing atau swasta sehingga uang yang beredar di dalam negeri bertambah karena adanya pinjaman terseut. Akibatnya pemerintah dapat meningkatkan permintaan barang dan jasa sehingga akan meningkatkan kondisi perekonomian.
Ketika terjadi inflasi dimana harga-harga naik, pemerintah dapat menggunakan kebijakan anggaran surplus. Dengan kebijkan anggaran surplus pemerintah akan berusaha menghemat pengeluarannya dan mengusahakan adanya tabungan pemerintah. Kebijakan ini akan mempengarui dan mengurangi permintaan barang dan jasa oleh pemerintah, dan adanya tabungan pemerintah akan menambah tabungan secara total (agregat).
Berkurangnya permintaan dan bertambahnya tabungan dapat menekan laju inflasi. Karena salah satu kebijakan untuk mengatasi inflasi adalah meningkatkan tabungan melalui peningkatan suku bunga. Hal ini untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Inflasi adalah ketika uang yang beredar melebihi barang yang ada. Walaupun harga terus naik, masyarakat akan terus membeli karena mereka memiliki uang, termasuk juga pemerintah. Dengan pengeluaran konsumsi dan permintaan pemerintah, barang yang ada hanya sedikit bertambah dan harga tidak terlalu cepat mengalami kenaikan.

3. Teori Stabil Otomatis
Kebijakan anggaran harus mengatur pengeluaran pemerintah. Hal ini dilihat dari perbandingan antara hasil dan biaya yang dikeluarkan untuk suatu proyek pembangunan yang akan dibiayai dengan APBN. Dengan demikian keseimbangan anggaran dapat terjadi dengan sendirinya.

Adapun tujuan dilakukannya kebijakan fiskal dan macam-macam kebijakan fiskal adalah sebagai berikut….

1.Tujuan Kebijakan Fiskal
Adapun tujuan-tujuan dari terjadinya dan berlangsungnya kebijakan fiskal antaralain sebagai berikut..
Mencapai stabilitas perekonomian
Memacu dan mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi
Memperluas dan menciptakan lapangan kerja
Menciptakan terwujudnya keadilan sosial bagi masyarakat
Mewujudkan pendistribusian dan pemerataan pendapatan.
Mencegah pengangguran dan menstabilkan harga
Permasalahan umum dalam kegiatan ekonomi adalah inflasi. Inflasi adalah jumlah uang beredar dimasyarakat yang besar dibandingkan jumlah barang dan jasa akan menyebabkan kenaikan harga-harga barang. Cara-cara dalam menghadapi inflasi melalui kebijakan fiskal antara lain sebagai berikut..

Cara Alternatif Dalam menganggulangi Inflasi melalui Kebijakan Fiskal
Bank Indonesia sebagai bank sentral yang memiliki otoritas keuangan akan berusaha mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat sampai terciptanya keseimbangan dengan jumlah barang dan jasa yang tersedia.
Mengupayakan peningkatan produksi sehingga nantinya jumlah barang atau jasa di masyarakat bertambah yang selanjutnya akan tercapai keseimbangan antara jumlah barang/jasa dengan jumlah uang yang beredar
Keputusan Mengatasi Inflasi melalui Kebijakan Fiskal
Mengurangi anggaran pengeluaran pemerintah dengan mengoptimalkan pos-pos vital.
Meningkatkan perolehan pajak melalui upaya peningkatan kesadaran pajak masyarakat serta pengenaan tarif pajak yang tinggi untuk beberapa komponen pajak yang dianggap perlu.
Melakukan pinjaman pemerintah guna menutup kekurangan yang ada. Tetapi sifat dari pinjaman yang dilakukan pemerintah hanyalah sebagai pelengkap dalam proses pembangunan.

Pos-pos Terbaru

contoh unsur intrinsik

Pengertian Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik novel

Pengertian Unsur Intrinsik adalah Unsur luar yang bepengaruh pada novel. Unsur-Unsur ekstrinsik adalah latar belakang pengarang, kondisi sosial budaya, dan tempat atau lokasi novel itu dikarang. Jika Unsur Intrinsik ada, begitu juga dengan Unsur Ekstrinsik pun karna Unsur Intrinsik Novel dan Unsur Ekstrinsik Novel saling berhubungan satu sama lain, Walaupun pada pengertian Unsur Intrinsik novel dan Pengertian Unsur Ekstrinsik memiliki perbedaan tetapi keduanya saling terkait, Jika Unsur Intrinsik itu mengacu ke Isi Novel tersebut, Unsur ekstrinsik mengacu kepada Luar dari Novel tersebut tetapi ada kaitannya dengan Isi novel tersebut, Jadi dapat dikatakan bahwa Unsur Intrinsik Novel dan Unsur Ekstrinsik Novel saling berhubungan. Dalam Unsur-Unsur Ekstrinsik seperti yang ada diatas, akan dijelaskan dan dibahas seperti yang ada dibawah ini..

Unsur-Unsur Ekstrinsik

Latar Belakang pengarang menyangkut asal daerah atau suku bangsa, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama dan ideologi pengarang. Unsur-unsur ini sedikit banyak akan berpengaruh pada isi novelnya. Misalnya, novel yang dikarang orang padang akan berbeda dengan novel yang dibuat oleh orang sunda, orang inggris, atau orang arab.
Kondisi Sosial Budaya, misalnya novel yang dibuat pada zaman kolonial akan berbeda dengan novel pada zaman kemerdekaan, atau pada masa reformasi. Novel yang dikarang oleh orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat metropolis akan berbeda dengan novel yang dihasilkan oleh pengarang yang hidup di tengah-tengah masyarakat tradisional.
Tempat atau kondisi alam, misalnya novel yang dikarang oleh orang yang hidup didaerah pertanian, sedikit banyak berbeda dengan novel yang dikarangoleh orang yang terbiasa hidup didaerah gurun.
Novel yang bagus adalah novel yang dibangun dengan cermat dan melalui proses yang panjang. Proses yang dimulai dari kerangka dasar sampai proses penulisan naskah. Salah satu proses dasar yang tidak boleh terlewat adalah pemenuhan terhadap unsur-unsur pembangun novel.
Unsur dalam novel dibagi menjadi dua, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Keduanya memiliki porsi dan sub-sub bagian tersendiri dalam novel. Namun keduanya saling berhubungan untuk membangun sebuah cerita.

Bahkan bisa dikatakan bahwa, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsik bisa menentukan kualitas cerita yang dihasilkan. Supaya lebih jelas, unsur intrinsik dan ekstrinsik novel akan dibahas satu per satu.

Unsur Intrinsik Novel
Unsur intrinsik novel merupakan unsur utama yang membangun novel dari dalam. Bisa dikatakan bahwa unsur intrinsik adalah unsur dalam cerita itu sendiri. Unsur tersebut tidak hanya satu, namuan ada banyak. Ada beberapa sub bagian yang mempunyai porsi tersendiri.

1. Tema
Tema merupakan ide atau gagasan utama dari sebuah novel. Tema berisikan gambaran luas tentang kisah yang akan diangkat sebagai cerita dalam novel. Sehingga sangat penting untuk memikirkan tema yang tepat sebelum memulai menulis novel. Sebab tema yang kuat akan menghasilkan cerita yang cerkas dan fokus.

2. Tokoh / Penokohan
Tokoh adalah seseorang yang menjadi pelaku dalam sebuah novel. Sedangkan penokohan merupakan watak atau karakter dari tokoh yang ada dalam cerita novel.
Berdasarkan jenis watak, tokoh bisa dibagi menjadi tiga kategori, yakni:
Tokoh Protagonis, tokoh yang menjadi pusat dalam cerita. Tokoh utama ini digambarkan sebagai sosok yang baik dan biasanya selalu mendapatkan masalah.
Tokoh Antagonis, tokoh yang menjadi lawan dari tokoh utama dalam cerita. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok yang tidak bersahabat dan selalu membuat konflik.
Tokoh Tritagonis, tokoh yang menjadi penengah antara tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok yang netral, kadang bisa berpihak pada protagonis, kadang pada antagonis. Namun ketika keduanya terlibat dalam konflik, dia menjadi pelerai.
Tokoh-tokoh tersebut biasanya dideskripsikan berdasarkan detail penokohan yang dibuat oleh penulis. Deskripsi tersebut nantinya bisa digunakan untuk menerangkan ciri fisik, tingkahlaku, cara pandang atau kehidupan sosialnya. Dalam penyampaian deskripsi, ada beberapa cara yang umum digunakan, misalnya:
Disampaikan melalui narasi dalam paragraf.
Disisipkan dalam dialog-dialog antar tokoh maupun dialog dengan diri sendiri.
Dimasukkan dalam alur melalui konflik demi konflik.
Diterangkan berdasarkan latar yang ada dalam novel tersebut.

Sumber: https://bugscode.id/

contoh fakta dan opini

Penjelasan singkat Perbedaan Fakta dan Opini

Perbedaan fakta dan opini dapat terlihat dari pengertiannya, baiklah untuk mengetahui perbedaan fakta dan opini kita amati pengertian dari keduanya, lalu simpulkan dimana letak perbedaannya lalu karna jika ingin membedakan sesuatu, ingin tahu perbedaanya kita lihat dengan seksama pengertian yang ingin kita bedakan, Untuk mengetahui lebih jelas tentang perbedaan fakta dan Opini mari kita lihat penjelasannya dan pembahasannya seperti dibawah ini.

1). Fakta merupakan sesuatu yang apa adanya. Dengan kata lain, fakta merupakan potret tentang keadaan atau peristiwa. Oleh karna itu, fakta sulit terbantahkan karena dapat dilihat, atau diketahui oleh banyak pihak. Meskipun demikian fakta dapat saja berubah apabila ditemukan fakta baru yang jelas dan akurat.
2). Pendapat belum benar adanya. Pendapat pribadi dapat salah atau benar. bukan ?. pendapat seseorang juga dapat berbeda dengan pendapat lainnya. suatu pendapat akan semakin mendekati kebenaran apabila ditunjang oleh fakta yang kuat dan menyakinkan

Kesimpulan :
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fakta berfungsi sebagai dasar bagi suatu pendapat. Seseorang sebaiknya mengemukakan fakta dulu, baru kemudian berpendapat. Sebaliknya, fakta dapat pula berfungsi memperjelas suatu pendapat. Dalam hal itu, seseorang sebaiknya berpendapat dulu, baru kemudian menyertainya dengan fakta-fakta

Perbedaan Fakta dan Opini

Fakta dan opini cenderung memiliki suatu kesamaan, berikut ini beberapa ciri-ciri fakta dan opini.

Ciri-ciri fakta :
Sudah teruji kebenarannya di depan khalayak umum serta bersifat objektif.
Memiliki data yang akurat atau bukti sebagai pendukung kebenarannya.
Pernah dilihat oleh manusia serta telah dilakukan pengujian dan pemastian di khalayak umum.

Ciri-ciri opini :
Belum teruji kebenarannya dan masih bersifat subyektif.
Tidak memiliki data pendukung atau bukti yang akurat.
Merupakan suatu peristiwa yang belum terjadi, karena merupakan suatu pendapat.
Apabila Anda masih kesulitan dalam membedakan yang mana fakta dan yang mana opini, berikut ini cara mudah dalam membedakan fakta dan opini.

Cara Mudah dalam Membedakan Fakta dan Opini
Seperti yang telah kita ketahui pada ciri-cirinya diatas, fakta mempunyai data yang teruji keakuratannya dan bersifat objektif maka itu dapat dikategorikan sebagai fakta, dengan menggunakan imajinasi Anda apakah kalimat tersebut adalah hal yang benar telah terjadi ataupun cuma pendapat orang saja.

Dalam kalimat opini biasanya terdapat kata-kata seperti bisa jadi, seharusnya, saya rasa, dan lain sebagainya, karena kata-kata tersebut menunjukkan bahwa kalimatnya masih dalam perencanaan atau pendapat dan belum terbukti kebenarannya. Berikut ciri-ciri kalimat opini.
Sumber: https://bogorchannel.co.id/

Ketidaksanggupan Menyerap Norma – Norma Kebudayaan

Penyebab Terjadinya Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang dapat terjadi oleh banyak faktor baik yang berasal dari dalam diri seseorang (intrinsik) yang berbentuk pembawaan – pembawaan atau bakat – bakat yang jelek, juga faktor ekstrinsik yaitu masukan dari pihak lain melalui proses sosialisasi. Secara rinci beberapa faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang bagi seorang individu atau kelompok individu dalam masyarakat sebagai berikut.

A. Proses Sosialisasi Yang Tidak Sempurna

Perilaku menyimpang dapat terjadinya karena proses sosialisasi yang tidak sempurna, misalnya seseorang dapat mencapai keberhasilan dapat diperoleh melalui suatu perjuangan dan doa yang gigih. Sementara orang yang melakukan sosialisasi terhadap hal tersebut hanya memandang sebelah mata, yaitu sisi keberhasilannya saja yang dipandang menyenangkan dan patut untuk dipilih tanpa menyinggung perjuangan dan doanya yang dilakukan dengan sangat gigih, uler serta proses waktu yang sangat panjang.

Dari kejadian ini orang ingin meniru keberhasilan dengan jalan pintas, yaitu jalan – jalan yang tidak sesuai dengan prosedur ataupun tidak sesuai dengan nilai – nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perilaku menyimpang karena proses sosialisasi yang tidak sempurna.

B. Ketidaksanggupan Menyerap Norma – Norma Kebudayaan
Hal ini terjadi jika seorang individu tidak mampu membedakan perilaku yang pantas dan tidak pantas. Ini dapat terjadi karena seseorang menjalani proses sosialisasi yang tidak sempurna. Kasus ini tampak pada seseorang yang berasal dari keluarga berantakan. Biasanya jika anak ini terjun ke masyarakat yang lebih luas maka ia cenderung tidak sanggup menjalankan perannya sesuai dengan perilaku yang pantas menurut ukuran masyarakat.

C. Penyerapan Subkebudayaan Menyimpang
Mekanisme proses belajar perilaku menyimpang sama dengan proses belajar lain. Proses belajar ini terjadi melalui interaksi sosial dengan orang lain khususnya orang – orang berperilaku menyimpang yang sudah berpengalaman.

D. Ketegangan Antara Kebudayaan dan Struktur Sosial
Setiap masyarakat tidak hanya memiliki tujuan – tujuan yang dianjurkan oleh kebudayaan, tetapi juga cara – cara yang diperkenankan oleh kebudayaan tersebut untuk mencapai tujuan. Apabila seseorang tidak diberi peluang untuk memilih maka cara – cara ini dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga kemungkinan besar akan terjadi perilaku menyimpang.

E. Ikatan Sosial Yang Berlainan
Setiap orang biasanya berhubungan dengan kelompok yang berlainan. Hubungan dengan kelompok – kelompok tersebut cenderung mengindentifikasi dirinya dengan kelompok yang paling dihargai. Melalui hubungan ini akan memperoleh pola – pola sikap dan perilaku kelompoknya. Jika pergaulan ini memiliki pola sikap dan perilaku menyimpang maka kemungkinan besar juga akan menunjukkan pola – pola perilaku menyimpang.

F. Akibat Proses Sosialisasi Nilai – Nilai Subkebudayaan Menyimpang
Proses sosialisasi dapat terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja. Perilaku menyimpang seringkali merupakan akibat sosialisasi yang sengaja maupun tidak sengaja.

Perilaku menyimpang sebagai hasil sosialisasi yang sengaja dapat terjadi melalui kelompok – kelompok gelap yang tujuannya benar – benar mengajarkan penyimpangan. Mereka membentuk subkebudayaan yang berbeda dari kebuayaan umumnya.

G. Sikap Mental Yang Tidak Sehat
Hal ini dapat terjadi karnea orang yang melakukan perilaku menyimpang tidak merasa bersalah atau menyesal bahkan merasa senang.

H. Dorongan Kebutuhan Ekonomi
Seseorang yang terdesak kebutuhan ekonominya jika tidak memiliki iman yang kuat atau tidak dapat mengendalikan diri serta tidak mau bekerja keras dapat terdorong menjadi penjahat.

I. Pelampiasan Rasa Kecewa
Seseorang yang mengalami rasa kecewa atau kepahitan hidup dapat melakukan perilaku menyimpang sebagai usaha pelarian atau pelampiasan terhadap rasa kecewanya atau kesulitannya itu.

J. Keinginan Untuk Dipuji Atau Gaya – Gayaan
Perilaku menyimpang kadang – kadang dilakukan sekedar untuk gaya atau keinginan untuk dipuji, misalnya berkelahi, mabuk – mabukan, penyalahgunaan narkotika, dilakukan agar dianggap hebat, jagoan, dan lainnya.

Pos-pos Terbaru

Auguste Comte

Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli

Sosiologi sebagai ilmu sosial cukup sulit untuk didefinisikan. Di bawah ini diuraikan beberapa pendapat dari para ahli berkaitan dengan sosiologi, yaitu sebagai berikut.

A. Patirin A. Sorokin

Mengemukakan sosiologi adalahilmu yang mempelajari tentang :
1) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka ragam gejala – gejala sosial, micalnya gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral.
2) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non sosial.
3) Ciri – ciri umum semua jenis gejala sosial.

B. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses – proses sosial, termasuk perubahan sosial.

C. Auguste Comte
Mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya. Sosiologi sebagai ilmu sosial mempelajari segala aspek kehidupan bersama yang terwujud dalam asosiasi – asosiasi, lembaga – lembaga, maupun peradaban.

D. Emile Durkheim
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta – fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu dan fakta – fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

E. Soejono Sukamto
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi – segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola – pola umum kehidupan masyarakat.

F. William Kornblum
Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.

G. Roucek & Waren
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok sosial.

H. Soerjono Soekanto
Sosiologi adalah ilmu yang kategoris, murni, abstrak, berusaha mencari pengertian – pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum.

I. Allan Jhonson
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat di dalamnya mempengaruhi sistem tersebut.

J. William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf
Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.

K. J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur – struktur dan proses – proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

L. Max Weber
Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan – tindakan sosial.

M. Paul B. Horton
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

N. Hassan Shadily
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan – ikatan antara manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta perubahannya.

O. Mayor Polak
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan yakni hubungan diantara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.

P. Anthony Giddens
Sosiologi adalah studi tentang kehidupan sosial manusia, kelompok – kelompok manusia dan masyarakat.

Q. Vander Zanden
Sosiologi adalah studi ilmiah tentang interaksi manusia di masyarakat.

R. George Simmel
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perhubungan sesama manusia (human relationship).

S. Mac Iver
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan – hubungan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Dari beberapa uraian para ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tata hubungan dalam masyarakat, serta berusaha mencari pengertian – pengertian umum, rasional empiris, bersifat umum dan dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain yang ingin mengetahuinya.

Sumber: https://wisatalembang.co.id/

Pada Zaman Keemasan Filsafat Yunani

Sejarah Sosiologi

Sejarah dan perkembangan sosiologi secara kronologis dan singkat dapat dikemukakan sebagai berikut.

1. Pada Zaman Keemasan Filsafat Yunani
Pada masa ini sosiologi dipandang sebagai bagian tentang kehidupan bersama secara filsafat. Pada masa itu Plato (429 – 347 SM) seorang filosof terkenal dari Yunani, dalam pencariannya tentang makna negara dia berhasil merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup kehidupan sosial dan ekonomi.

Plato menganggap bahwa institusi – institusi dalam masyarakat saling bergantung secara fungsional. Kalau ada satu institusi yang tidak jalan, maka secara keseluruhan kehidupan masyarakat akan terganggu. Seperti halnya Plato, maka Aristoteles (384 – 322 SM) juga menganggap bahwa masyarakat adalah suatu organisme hidup dengan basis kehidupannya adalah moral yang baik. Pada masa ini kaum agamawan yang berkuasa sehingga kehidupan sosial lebih diwarnai oleh keputusan – keputusan kaum agamawan yang berkuasa.

2. Pada Zaman Renaissance (1200 – 1600)
Machiavelli adalah orang pertama yang memisahkan antara politik dan moral sehingga terjadi suatu pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Di sini muncul ajaran bahwa teori – teori politik dan sosial memusatkan perhatian pada mekanisme pemerintahan. Sejak masa ini pengaruh kaum agamawan mulai memperoleh tantangan.

3. Pada Abad Pencerahan (Abad ke 16 dan 17)
Pada masa ini muncul Thomas Hobbes (1588 – 1679) yang mengarang buku yang dikenal sebagai The Leviathan. Inti ajarannya diilhami oleh hukum alam, fisika dan matematika. Pada masa ini pengaruh keagamaan mulai ditinggalkan dan digantikan oleh pandangan – pandangan yang bersifat hukum sebagai kodrat keduniawiannya. Berdasarkan pandangan kelompok inilah kemudian muncul suatu kesepakatan antarmanusia (kelompok) yang dikenal sebagai kontrak sosial.

Pada mulanya interaksi antarmanusia berada dalam kondisi chaos karena saling mencurigai dan saling bersaing untuk memperebutkan sumberdaya alam dan manusia yang ada. Kondisi yang bersifat kodrati (sesuai dengan hukum alam) ini kemudian dipandang akan selalu menyengsarakan kehidupan manusia. Oleh sebab itu, dibuatlah kesepakatan – kesepakatan pengaturan antarkelompok yang dapat diterima dan saling menguntungkan yang kemudian dikenal sebagai kontrak sosial.

4. Pada Abad ke – 18
Pada masa ini, muncullah John Locke (1632 – 1704) yang dianggap sebagai bapak Hak Asasi Manusia (HAM). Dia berpandangan bahwa pada dasarnya setiap manusia mempunyai hak – hak dasar yang sangat pribadi yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun termasuk oleh negara seperti hak hidup, hak berpikir dan berbicara, berserikan, dan lain – lain.

Tokoh lain yang muncul adalah J.J Rousseau (1712 – 1778) yang masih berpegang pada ide kontrak sosialnya Hobbes. Dia berpandangan bahwa kontrak antara pemerintah (negara) dengan yang diperintah (rakyat) menyebabkan munculnya suatu kolektivitas yang mempunyai keinginan – keinginan tersendiri yang kemudian menjadi keinginan umum. Keinginan umum inilah yang seharusnya menjadi dasar penyusunan kontrak sosial antara negara dengan rakyatnya.

5. Pada Abad ke – 19
Abad ke 19 dapat dianggap sebagai abad mulai berkembangnya sosiologi, terutama sesudah Auguste Comte (1798 – 1853) memperkenalkan istilah sosiologi, sebagai usaha untuk menjawab adanya perkembangan interaksi sosial dalam masa industrialisasi. Pada masa ini sosiologi dianggap mulai dapat mandiri. Kondisi yang baru dalam taraf mulai mandiri ini disebabkan walaupun sosiologi sudah dapat menunjukkan adanya objek yang dihasilkan fokus pembahasan (interaksi manusia), namun di dalam pengembangan ilmunya masih menggunakan metode – metode ilmu – ilmu yang lain, ilmu ekonomi misalnya.

6. Pada Abad ke – 20
Pada abad ke – 20 sosiologi dapat benar – benar dianggap mandiri karena adanya beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.
a. Mempunyai objek khusus, yaitu interaksi antar manusia.
b. Mampu mengembangkan teori – teori sosiologi.
c Mampu mengembangkan metode khusus sosiologi untuk pengembangan sosiologi.
d. Sosiologi menjadi sangat relevan dengan semakin banyaknya kegagalan pembangunan karena tidak mendasarkan dan memerhatikan masukan dari sosiologi.

Pada akhir abad ke – 20 ini, salah satu kelemahan dari sosiologi, saat ini sudah mulai dapat dipecahkan, yaitu dalam kaitannya dengan perkembangan dan permasalahan global. Di sini interaksi antarmanusia yang dapat diamati adalah interaksi tidak langsung melalui telepon, internet, dan lain – lain yang menghubungkan manusia yang saling berjauhan letaknya.

Sumber: https://pulauseribumurah.com/

Tugas Komisaris

Tugas Komisaris

Tugas KomisarisTugas Komisaris

ü  Komisaris bertugas mengawasi Direksi dalam  menjalankan kepengurusan persero serta memberika nasihat kepada Direksi.

ü  Dalam anggaran dasar dapat ditetapkan pemberian wewenang kepada komisaris untuk memberikan persetujuan kepada Direksi dalam melakukan perbuatan hukum tertentu.

ü  Berdasarkan anggaran dasar atau keputusan RUPS, Komisaris dapat melakukan tindakan pengurusan Persero dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu.

  1. Larangan bagi anggota Komisaris memangku jabatan rangkap sebagai

ü  Anggota Direksi pada BUMN, badan usaha milik daerah, badan usaha milik swasta, dan jabatan lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan.

ü  Jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

  1. Ketentuan masa jabatan Komisaris

ü  Masa jabatan Komisaris adalah 5 tahun dan dapat diangkat kembali untnk satu kali masa jabatan.

ü  Ketentuan tentang pemberhentian sewaktu-waktu terhadap anggota Komisaris sama dengan ketentuan tentang Direksi.

 

Pos-pos Terbaru