Noun clauses diawali dengan whether if

Noun clauses diawali dengan whether if

Noun clauses diawali dengan whether if

Noun clauses diawali dengan whether if
Noun clauses diawali dengan whether if

Whether bisa diikuti oleh OR/NOT bisa juga tidak; makna kalimat biasanya sama walaupun OR/NOT tidak disebutkan (ini tergantung konteks kalimat).

Contoh:

  1. I am not sure whether she is coming or not = I am not sure whether or not she is coming = I am not sure whether she is coming. (Saya tidak yakin apakah dia akan datang atau tidak).
  2. We can’t decide whether we should go out or stay home. = We can’t decide whether to go or (to) stay home. Perhatikan, infinitives juga dapat digunakan setelah whether.
  3. I am not sure whether I should take economics or law after I graduate from high school. (Saya tidak yakin apakah saya harus ngambil Ekonomi atau Hukum setelah lulus SMA nanti).
  4. If you take economics, I will take economics. On the other hand, if you take law, I will take law too.

C. Noun clauses diawali dengan that/the fact that

 

Di sini that berarti bahwa, sedangkan the fact that berarti fakta bahwa. Sedangkan, that dalam adjective clauses berarti yang.

Contoh:

  1. That she has had a PhD degree at the age of 20 surprises a lot of people = It surprises a lot of people that she has had a PhD degree at the age of 20.
  2. It is the fact that the world is round = the fact that the world is round is well known.
  3. It was obvious that she was very sick = The fact that she was very sick was obvious.
  4. It seems that it is going to rain soon.

Contoh Soal :

1. The teacher heard who answered the question. (C)

Analisa:

  •  Kalimat pertama “The teacher heard” benar karena The teacher subject and heard verbnya. Kalimat kedua “Who answered the phoned” juga benar karena who berfungsi sebagai subject and answered sebagai verbnya. Pada saat yang bersamaan Who juga berfungsi sebagai connetor.
  • Jadi kalimat di atas sudah benar.

2. I do not understand it went wrong. (I)

Analysis:

  • Kalimat pertama “I do not understand” sudah benar karena I subject dan do not understand verb. Kalimat kedua “it went wrong” salah karena tidak ada connector sekaligus subject.
  • Kalimat yang benar seharusnya: I do not understand what went wrong.What berfungsi sebagai subject dan juga connector, sementara went nya sebagai verb,

3. Of the three movies, I can’t decide which is the best. (C)

Analisa:

  • Di kalimat pertama, I sebagai Subject dan can’t decide sebagai verb. Di kalimat kedua, which sebagai connector sekaligus subject dan is sebagai verb,

4. She did not remember who in her class. (I)

Analisa

  • Di kalimat pertama, She sebagai subject dan did not remember sebagai verb. Dikalimat kedua, who sebagai connector dan juga subject tapi tidak ada verbnya,
  • Kalimat ayng benar seharusnya ……………..who was in her class.

5. No one is sure what did it happen in front of the building. (I)

Analisa:

  • Kalimat pertama sudah benar karena No one adalah subject dan is adalah verb, tapi kalimat kedua salah karena ada did dan it. Did dan it seharusnay di hapus dan verb “happen” menjadi bentuk lampau “happened”.
  • Jadi kalimat yang benar seharusnya: …….what happened  in front of the building.

Baca Juga :

Question words + ever/soever

Question words + ever soever

Question words + ever/soever

Question words + ever soever
Question words + ever soever

Kecuali how, diakhir question words dapat ditambahkan ever atau soever menjadi whenever = whensoever, whatever= whatsoever, dan seterusnya. Arti ever atau soever di sini sama, yaitu saja/pun, tinggal dikombinasikan dengan kata tanya di depannya. Sedangkan, how+ever menjadi however (i.e. adverb atau juga disebut kata transisi yang berarti namun/walapun demikian) tidak termasuk dalam katagori ini.

Contoh:

  1. We will accept whatever you want us to do. (Kami akan menerima/melakukan apa saja yang kamu ingin kami lakukan).
  2. Whoever can melt her feeling is a very lucky guy. (melt = meluluhkan). Be careful: guy (dibaca gae)= laki-laki, sedangkan gay (dibaca gei) = fag = homo.
  3. She has agreed to wherever the man would bring her. (Dia telah setuju kemanapun pria itu membawanya pergi). Note: in speaking (informal), preposition (dalam hal ini to, etc.) biasanya diletakkan di ujung kalimat. She has agreed wherever the man would bring her to.

3. Question words + nouns

Question words + nouns yang sering digunakan antara lain: what time (jam berapa), what day (hari apa), what time (jam berapa), what kind (jenis apa), what type (tipe apa), whose + nouns (i.e. whose car, whose book, ect.), dan seterusnya.

Contoh:

  1. I can’t remember what day we will take the exam.
  2. As long as I am faithful, she doesn’t care what type of family I come from. (faithful = setia).
  3. Do you know what time it is?
  4. I don’t know whose car is parked in front of my house.

4. Question words + adjectives

Question words + adjectives yang sering digunakan antara lain: how long (berapa panjang/lama), how far (berapa jauh), how old (berapa tua/umur), ect.

Contoh:

  1. Man! She still looks young. Do you know how old she actually is?
  2. I am lost. Could you tell me how far it is from here to the post office?
  3. What a jerk. He didn’t even ask how long I had been waiting for him.

5. Question words + determiners.

Question words + determiners yang sering digunakan adalah: how many (berapa banyak) dan  how much (berapa banyak). Remember: how many diikuti oleh plural nouns, sedangkan how much diikuti oleh uncountable nouns.

Contoh:

  1. Is there any correlation between how good he or she is in English and how many books he or she has?
  2. How much your English skill will improve is determined by how hard you practice.

6. Question words + adverbs.

Question words + adverbs yang sering digunakan adalah: how often (berapa sering), how many times (berapa kali) ect.

Contoh:

  1. No matter how often I practice, my English still sucks. (Tidak memandang berapa kali saya latihan, bahasa Inggris saya masih jelek). Suck (informal verb) = jelek/tidak baik; arti suck yang lain: mengisap.
  2. I don’t want my parents to know how many times I have left school early. (leave school early = bolos).

7. Question words + infinitives.

Jika question words langsung diikuti oleh infinitives, invinitives tersebut mengandung makna shouldatau can/could. Perhatikan bahwa subject setelah question words dihilangkan.

Contoh:

  1. She didn’t know what to do = She didn’t know what she should do. (Dia tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan).
  2. Please tell me how to get the train station from here = Please tell me how I can get the train station from here.
  3. We haven’t decided when to go to the beach = We haven’t decided when we should go to the beach.
  4. Marry told us where to find her = Marry told us where we could find her.

Noun Clauses

Noun Clauses

Noun Clauses

Noun Clauses
Noun Clauses

Noun Clauses

Noun clause adalah clause (i.e. subject dan verb) yang difungsikan sebagai noun. Noun clause dalam kalimat pada umumnya digunakan sebagai subject dan object kalimat.

Noun clause dapat diawali oleh:

  • Question word atau relative pronoun baik berupa single question word maupun phrase:
    • Single question word (i.e. when, how, what, ect.).
    • Question word + determiner/ noun/ adjective / adverb.
    • Question word + infinitive.
  • Conjunction (i.e. whether dan if).
  • That atau the fact that.

Sehingga pola dari noun clause adalah:

Question word/conjunction/that + subject + verb + …

A. Noun Clauses diawali dengan Question words

Dalam How to Address Questions sudah dibahas tentang penggunaan kata tanya baik dalam membuat information questions maupun dalam membuat embedded questions.  Embedded questions tersebut adalah noun clause. Dalam section ini diberikan contoh tambahan untuk merefresh memori anda.

1. Single question words.

Contoh:

  1. Where she is now is still unknown.
  2. When they arrive is still uncertain.
  3. I know what you did last summer and I still know what you did last summer are two Hollywood movies starred by Jennifer Love Hewitt. Perhatikan: dalam kalimat ini, noun clause what you did last summer menjadi object dari I know dan I still know, dan setelah digabung dengan: are two Hollywood movies starred by Jennifer Love Hewitt, menjadi subject majemuk dari kalimat.

Noun clause dapat ditempatkan diawal kalimat (sebagai subject) atau sebagai object. Jika anda ingin merubah posisi noun clause dari subject kalimat menjadi object kalimat, biasanya dibutuhkan pronoun it atau sedikit modifikasi kata. Contoh di atas menjadi:

  1. It is still unknown where she is now.
  2. Do you know when they arrive?
  3. Two Hollywood movies starred by Jennifer Love Hewitt are I know what you did last summer and I still know what you did last summer. Karena merupakan judul movies, noun clause what you did last summer tidak perlu diputar posisinya.

Note:

a) Clause yang diawali oleh question words tertentu (i.e. when, whenever, where) juga dapat berfungsi sebagai adverbial clause.

Contoh:

  1. I was reading a book when the phone rang.
  2. I went to where I and my ex girlfriend had been last weekend.
  3. I suddenly get nausea whenever I see his face. (nausea = mual/mau muntah).

b). Clause yang diawali oleh question words tertentu (i.e. who, whom, whose + noun) juga dapat berfungsi sebagai adjective clause. Dalam hal ini, kata tanya tersebut sebenarnya adalah relative pronoun. Well, jangan terlalu dipusingkan dengan istilah. Yang penting anda mengerti pola/struktur kalimatnya. Tapi, jika anda penasaran, silakan baca topic adjective clauses.

Contoh:

  1. I think you whom Mr. Dodi was looking for. (Saya kira kamu (orang) yang pak Dodi sedang cari-cari tadi).
  2. Mr. Dodi, who is a teacher, was looking for you at school.
  3. Rommy, whose book was stolen last week, just bought another new book yesterday.

Lantas, bagaimana cara membedakan apakah itu noun clause, adverbial clause, atau adjective clause? Jawabannya sederhana. Noun clause dapat digantikan dengan pronoun it, sedangkan adverbial clause dan adjective clause tidak. Noun clause menjawab pertanyaan what dan who/whom; Adverbial clause menjawab pertanyaan when, where, how (termasuk how much, how often, ect), dan why. Adjective clause (i.e. kata sifat yang berbentuk clause) menerangkan noun, dan relative pronounnya (i.e. who, that, ect.) dalam bahasa Indonesia berarti “yang“.

Sumber : https://sam-worthington.net/

Santuni 40 Anak Yatim, Jadi Agenda Rutin

Santuni 40 Anak Yatim, Jadi Agenda Rutin

Santuni 40 Anak Yatim, Jadi Agenda Rutin

Santuni 40 Anak Yatim, Jadi Agenda Rutin
Santuni 40 Anak Yatim, Jadi Agenda Rutin

SDN Otista di Jalan Bangka telah mengadakan kegiatan bhakti sosial berupa santunan bagi anak yatim,

baik itu dari warga sekitar maupun siswa dari SDN Otista. Guru Agama SDN Otista Rifai mengatakan, kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan SDN Otista, yang diprakarsai oleh forum komite sekolah.

Sementara dananya dari para donatur serta forum komite sekolah. “Anak yang kami santuni jumlahnya 40 orang

, dari warga sekitar dan 12 orang siswa SDN Otista yang meru­pakan anak yatim. Kami sangat senang bisa berbagi dengan sesama teru­tama anak yatim, mengingat seba­gian rejeki ini merupakan hak atas mereka,” ungkapnya.

Rifai berharap agar kegiatan ini bisa menjadi cermin sosial terhadap siswa serta momentum akan pen­tingnya berbagi

dengan sesama. Kami sangat senang melihat se­nyum anak yatim tersebut, karena senyum itu sangat tulus, siswa sang­at antusias dengan kegiatan ini, oleh karenanya itu merupakan latihan mental terhadap anak akan penting­nya berbagi,” pungkasnya

 

Baca Juga :

Ditemani Orang Tua hingga Hilangkan Adegan Kekerasan

Ditemani Orang Tua hingga Hilangkan Adegan Kekerasan

Ditemani Orang Tua hingga Hilangkan Adegan Kekerasan

Ditemani Orang Tua hingga Hilangkan Adegan Kekerasan
Ditemani Orang Tua hingga Hilangkan Adegan Kekerasan

Puluhan pela­jar SDN Bangka 3 Bogor antusias saat menyaksikan nonton bareng (nobar) film G30S/PKI.

Kegiatan yang diikuti siswa kelas III, IV dan V ini digelar di halaman sekolahnya yang berlokasi di Kelurahan Baranangsi­ang, Kecamatan Bogor Timur, ke­marin.

Pantauan di lapangan, sejumlah siswa ada yang ditemani orang tuanya. Namun, tak sedikit

pula yang menon­ton film besutan Orde Baru ini tanpa didampingi orang tua. Tapi, unsur kekerasan di dalam film itu sengaja tidak ditampilkan. ”Setiap agedan kekerasan tidak kita tayangkan. Meng­ingat, usia anak-anak masih di bawah 13 tahun,” kata Kepala SDN Bangka 3, Suyarsih.

Menurutnya, sekolah sengaja mem­pertontonkan film sejarah kelam In­donesia kepada siswanya agar me­reka memiliki rasa patriotisme. ”Pemu­taran film G30S/PKI ini sama sekali tidak menganggu kegiatan belajar mengajar (KBM). Karena dilaksanakan setelah jam belajar selesai. Kita sudah koordinasikan dengan pihak aparat setempat,” ujar Suyarsih.

Sementara itu, pengawas pembina SD Kecamatan Bogor Timur, Yayah Komariah mengapresiasi hal tersebut.

Sebab, tidak ada surat pelarangan, baik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun Dinas Pen­didikan Kota Bogor.

Namun, kata dia, anak-anak tidak boleh sendirian menonton film yang ditayangkan di SDN Bangka 3 itu. ”Film itu dipertontonkan agar siswa mem­getahui sejarah dan memiliki rasa cinta terhadap tanah air,” katanya.

 

Sumber :

https://rollingstone.co.id/

Tumbuhkan Semangat Persaudaraan dan Kemandirian

Tumbuhkan Semangat Persaudaraan dan Kemandirian

Tumbuhkan Semangat Persaudaraan dan Kemandirian

Tumbuhkan Semangat Persaudaraan dan Kemandirian
Tumbuhkan Semangat Persaudaraan dan Kemandirian

Ratusan anggota Pramuka dari Kwartir Ranting (Kwaran) Kecamatan Bogor Timur

(Botim) dan Kwaran Pramuka Kecamatan Bogor Selatan (Bogsel) mengikuti Perkemahan Satu Hari (Persari) di dua tempat berbeda, Sabtu.

Persari di Kecamatan Botim, dilaksanakan di SDN Duta Pakuan dan dibuka langsung Sekretaris Ke­camatan, Syahib Khan, mewakili Ke­tua Mabiran, Adi Novan dan diha­diri Ketua Kwaran Pramuka Bogor Timur Aang Nurdigalih. Sedangkan di Kecamatan Bogsel, dilaksanakan di Ciranjang, dan dibuka Ketua Kwa­ran, Mad Soleh.

Pada kesempatan ini, Syahib Khan berharap kepada peserta yang mengik­uti Persami ini,

ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat mening­kat dan dapat menumbuhkan seman­gat persaudaraan dan kemandirian.

”Anggota Pramuka harus mampu menggali potensi dalam kegiatan kreatif dan menyenangkan, serta bisa mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki siswa. Terutama, dalam membina semangat persatuan dan kesatuan sesama Pramuka,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Kwaran Pramuka Botim, Aang Nurdigalih menjelaskan, Persari ini

dilaksana­kan untuk melatih anak-anak agar terus belajar dan mengembangkan kemampuan dirinya selalu siaga, serta bekerjasama dalam tim. Ka­rena, Pramuka bertujuan untuk membentuk generasi berakhlak mulia, patriotik, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa.

Sedangkan di Kwaran Bogsel, kata Mad Soleh, bentuk kegiatan Persari kali ini berupa karnaval memakai kostum dari daun-daunan, memper­kenalkan makanan dan jajanan tra­disional.

Selain itu, memperkenalkan permainan tradisional yaitu, bermain karet dan kelereng, serta memper­aktekkan tata upacara yang benar. ”Intinya, kegiatan yang diikuti ang­gota Pramuka se Kwaran Bogsel untuk menjalin silaturahmi sesama ang­gota Pramuka,” ungkapnya.

 

Sumber :

https://voi.co.id/

Gapeksinas dan Askonas Gembleng Siswa SMKN 1 Cibinong

Gapeksinas dan Askonas Gembleng Siswa SMKN 1 Cibinong

Gapeksinas dan Askonas Gembleng Siswa SMKN 1 Cibinong

Gapeksinas dan Askonas Gembleng Siswa SMKN 1 Cibinong
Gapeksinas dan Askonas Gembleng Siswa SMKN 1 Cibinong

Para siswa SMKN 1 Cibinong jurusan desain Permodelan dan Informasi Bangunan melaksana­kan

Praktik Kerja Industri (Prakerin) pada perusahaan kontraktor. Prakerin dilakukan sebagai upaya agar para siswa bisa mengetahui secara langsung dunia kerja.

”Dengan Prakerin para siswa diha­rapkan bisa merasakan dan melihat secara langsung dunia kerja, bukan hanya teori di sekolah,” ungkap guru Bidang Studi, Jatmikowati. Para siswa tersebut diterima Ketua Gabungan Pengusaha Kontraktor Nasional (Ga­peksinas) Ferry Revio Checanova dan Sekretaris Asosiasi Kontraktor Nasio­nal (Askonas) Jonarudin Syah di kan­tornya, kawasan Cibinong.

”Untuk memasuki dunia kerja di­perlukan keahlian matang. Tak bisa coba–coba, terutama mental

yang harus dipersiapkan,” tegas Ferry. Untuk itu, ia akan berbagi pengala­man dengan para siswa. Setidaknya membimbing agar mereka paham tentang perusahaan kontraktor. ”Kami sharing saja, mudah-mudahan apa yang kami perlihatkan bisa di­cerna dengan baik oleh siswa,” ka­tanya.

Hal serupa dikatakan Jonarudin Syah. Menurut dia, langkah tepat jika para siswa jurusan Desain Permode­lan

dan Informasi Bangunan magang di perusahaan kontraktor di Kabupa­ten Bogor.

”Jadi, kita bisa mengetahui tentang informasi pembangunan dan desain yang sedang berkembang di Bogor. Bahkan, kami juga siap memberikan informasi untuk kepentingan pembe­lajaran mereka,” pungkasnya

 

Baca Juga :

Ajarkan Kemandirian Pelajar Lewat Lomba

Ajarkan Kemandirian Pelajar Lewat Lomba

Ajarkan Kemandirian Pelajar Lewat Lomba

Ajarkan Kemandirian Pelajar Lewat Lomba
Ajarkan Kemandirian Pelajar Lewat Lomba

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ammara Cen­dekia menggelar perlombaan

dalam memperingati HUT ke-73 RI di ha­laman sekolahnya, Jalan Raya Ci­bantengproyek, Desa Cihideungilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

Sebelum mengikuti perlombaan, peserta didik terlebih dulu melaks­anakan salat Duha berjamaah lalu dilanjutkan doa bersama dan makan snack. Setelah itu, sebanyak 50 sis­wa dan siswi SDIT Ammara Cende­kia mengikuti beberapa perlom­baan yang diadakan komite sekolah.

“Lombanya macam-macam. Ada tarik tambang, makan kerupuk sam­bil duduk, memindahkan

belut ke botol, memasukkan benang ke jarum, berebut kursi, pukul balon dan lain­nya,” katanya.

Menariknya, lomba yang digelar SDIT Ammara Cendekia bukan hanya me­libatkan siswa dan siswi, tapi juga orang tua murid. “Acara ini rutin digelar setiap tahun. Kami sengaja meng­gelar perlombaan untuk mengajak anak-anak mandiri dan menghargai kemerdekaan. Mengikuti lomba te­tapi tetap mengikuti syariat Islam yang benar. Selain itu, tahun ini acaranya lebih meriah dan bervariatif karena digelar komite sekolah,” paparnya.

Sementara itu, siswi kelas 3, Athira Fitri (8), mengaku senang dengan adanya lomba 17-an ini.

“Saya coba beberapa perlombaan, seru kegiatan­nya. Bisa main bareng sama teman-teman,” kata Fitri.

Sekadar diketahui, berdiri sejak 2016 SDIT Ammara Cendekia men­gusung konsep berbeda dari SDIT lainnya. Sebab, SDIT Ammara Cen­dekia ini menggabungkan konsep Sekolah Alam, MI dan SDIT.

 

Sumber :

https://www.surveymonkey.com/r/SNTBHND

 

Pelatihan Metode In-On Telan Rp840 Miliar

Pelatihan Metode In-On Telan Rp840 Miliar

Pelatihan Metode In-On Telan Rp840 Miliar

Pelatihan Metode In-On Telan Rp840 Miliar
Pelatihan Metode In-On Telan Rp840 Miliar

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan anggaran Rp840 miliar

untuk meningkatkan mutu guru tahun ini. Dana tersebut digunakan untuk menerapkan metode pelatihan baru bagi semua guru mata pelajaran di setiap zona. Pelatihan yang disebut in-on itu diawali guru SMP yang tersebar di 4.580 zona.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Supriano, menuturkan, metode in-on dirancang untuk merespons hasil Ujian Nasional (UN) sampai level analisis capaian butir soal. Cara tersebut bermanfaat untuk mendiagnosis kelemahan pembelajaran di suatu zona.

Menurut dia, peningkatan mutu guru masih jadi program prioritas pemerintah hingga 2020.

Sesuai instruksi Presiden RI Joko Widodo, tahun ini prioritas program difokuskan pada meningkatkan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Ia menuturkan, metode in-on 82 jam wajib diikuti semua guru. Dengan perincian lima kali in dan tiga kali on. “Dimulai dari tahap guru bertukar pikiran hingga evaluasi perubahan kelas yang selama ini belum pernah dilakukan,” kata Supriano.

Ia mengklaim metode tersebut belum pernah digunakan dalam semua pelatihan guru sebelumnya. Terdapat beberapa tahap dalam proses pelatihan in on. Pertama, instruktur nasional melatih guru inti yang merupakan guru berprestasi di setiap mata pelajaran dari semua zona. Para guru inti ini akan bertanggung jawab untuk mata pelajaran per zona.

Kedua, pelatihan dimulai dengan in. Ketika in pertama akan terjadi refleksi di antara guru

terkait kendala dengan mengacu pada UN, kompetensi inti, dan kompetensi dasar (KI-KD) dan lainnya. Pada in kedua, dibuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berbeda antara guru satu dan yang lain. Setelah RPP selesai di in dua, masuk ke on satu, yakni guru kembali ke kelas untuk mengajar.

 

Sumber :

https://www.surveymonkey.com/r/SNJD2NS

Macam-macam Ibadah dan Syarat syarat Ibadah

Macam-macam Ibadah dan Syarat syarat Ibadah

Macam-macam Ibadah dan Syarat syarat Ibadah

Macam-macam Ibadah dan Syarat syarat Ibadah
Macam-macam Ibadah dan Syarat syarat Ibadah

Macam-macam Ibadah

Secara garis besar ibadah dibagi menjadi dua macam
1. Ibadah Khassah (khusus) atau ibadah mahdah (ibadah yang ketentuannya pasti).
2. Ibadah ‘Ammah (umum) yakni semua perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT. Dengan kata lain, semua bentuk amal kebaikan dapat dikatakan ibadah amah bila dilandasi dengan niat semata-mata karena Allah SWT. Hal ini didasarkan pada firman-Nya.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

Terdapat beberapa metode yang bervariatif dan pengaruhnya sangat besar pada jiwa serta membersihkannya, cara ujian untuk mengetahui kejujuran orang-orang yang mengerjakannya, dalam mencari petunjuk dan istiqomah.

Ruang ibadah didalam islam sangat luas meliputi setiap aktivitas kehidupan manusia, Perhubungan manusia dengan Tuhan adalah secara terus menerus, dan Beribadah tidak terkokong ditempat-tempat tertentu.
Ibadah juga dapat menentramkan jiwa kita, apabila ibadah itu dilakukan sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan yang tidak melanggar norma-norma ajaran dalam agama dan syariat islam. Karena pada tubuh yang sehat itu terdapat jiwa yang sehat, maka dari itu dalam beribadah juga kita harus menjaga tubuh dan jiwa kita agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah sehari-hari.

Syarat-syarat Ibadah

1. Amalan yang dilakukan hendaklah diakui Islam dan bersesuai dengan hukum syarak
2. Amalan hendaklah dikerjakan dengan niat yang baik bagi memelihara kehormatan diri, menyenangkan keluarga, memaafkan ummat dan memakmurkan bumi Allah
3. Ketika melakukan pekerjaan hendaklah senantiasa mengikuti hokum-hukum syariat dan batasnya, tidak mendzalimi orang, tidak khianat, tidak menipu dan tidakmerampas hak orang lain.

Peranan ibadah yang luas

Ibadah yang khusus seperti shalat, puasa, zakat dan haji adalah untuk mempersiapkan individu menghadapi ibadah yang umum yang mesti dilakukan di sepanjang jalan.

Demikianlah penjelasan mengenai Macam-macam Ibadah dan Syarat syarat Ibadah. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan khususnya tentang ibadah. Terimakasih.

Baca Juga: